Hari ini aku merasa sedikit kesal dengan tuk tuk (baca: bajai. bahasa mesir). Bagaimana tidak? ia meminta upah ongkos yang sangat berlebihan kepadaku. Angkutan yang bisa mengantarkan penumpangnya melewati jalanan kecil dan sempit itu kunaiki dengan sangat terpaksa karna aku sudah sangat telat untuk kembali ke asrama. Saat itu aku dan seorang temanku memilih tuk tuk karena ia mampu berjalan dengan kecepatan yang lumayan tinggi dan tentunya mampu menerobos lalu lintas yang sedikit macet. Tapi apa yang kami fikirkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, karena kami mendapatkan tuk tuk yang berjalan sangat lambat bahkan harus didorong agar berjalan sedikit cepat.
"Yebni... el tuk tuk fasid?" (eh, tuk tuknya rusak ya?). Dengan nada khawatir aku menanyakannya.
Tapi dengan polosnya, ia hanya sedikit menoleh lalu tersenyum.
Mendapati jawaban seperti itu tentunya aku merasa agak geram karna kami sudah sangat terlambat.
Seorang anak kecil berrambut gondrong yang mengemudikannya, seorang temannya dengan peban tebal menemaninya. Awalnya aku tidak tahu apakah temannya itu memang menemani temannya mengemudi atau sengaja numpang karna arah yang kami tuju sama. Tapi ternyata ia membantu temannya mendorong tuk tuk yang kami tumpangi. Aku merasa takut saat menduduki bangku penumpang karena aku biasa melihat pengendara tuk tuk mengendarai tuk tuk dengan kencang. Kecepatannya hampir menyamai mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Bukan, bukan itu yang aku takutkan. Aku takut terjatuh dari tuk tuk itu karna ia tak berpintu seperti halnya bajai di indonesia. Sehingga kami harus ekstra waspada dan berpegangan saat menaikinya. Bahkan karena lihainya sang supir, siapapun yang melihat tuk tuk menerobos jalanan dengan cepat saat berbelok ia akan terlihat sedikit miring atau hampir jatuh. Itulah yang terlintas di benakku saat menduduki bangku penumpang. Tapi anehnya temanku biasa saja bahkan sempat sesekali tertawa melihat ekspresi pengemudi yang sesekali mengumpat pada pengendara bermotor lainnya.
Di pertengahan perjalanan, kecepatan tuk tuk melambat perlahan lahan. Tiba- tiba anak kecil dengan perban ditangannya itu turun dan mendorong tuk tuk. Walau aku tersenyum melihat ekspresi mukanya, tapi hatiku merasa sedikit tersentuh. Betapa sanggup ia mendorong beban berat itu dengan luka di tangannya. Saat itu aku merasa sangat iba dan berniat akan memberinya sedikit uang lebih. Ku siapkan selembar uang bernilai lima pound. Tapi karena ia berkali kali mendorong tuk tuk nya, aku merasa sangat iba dan merogoh tas ku, berusaha mencari sisa sisa uang receh yang ada. Akhirnya, terkumpulah uang delapan pound itu.
Beberapa menit kemudian akhirnya sampailah tuk tuk itu di depan asramaku. Aku turun terlebih dahulu dan segera memasuki gerbang asrama sambil merangkai kata kata agar penjaga gerbang itu tidak marah kepadaku. Temanku yang menyerahkan uang itu padanya. Namun baru aku berniat menyatakan alasan, tiba tiba ku dengar suara ribut dari arah gerbang. Sang penjaga gerbang menghampirinya.
"Haati isyrin gineh!".(Beri kami dua puluh pound). Pintanya.
"Bitirkab mineen?" (Naik dari mana kalian?). Penjaga asrama bertanya kepada kami.
"Min Musallas" (Dari Musallas). Jawab kami serempak.
"Bas hum yas al khus syimal... summa khusy lemen... sudaa' ya'ni" (tapi dia ngajakin muter muter bikin pusing. Pengemudi tuk tuk beralasan.
"Laa ah!!!" Sanggahku.
"Maa yanfasy keda min musallas isyrin gineh. harom alaiku" (Ga boleh gitu, masa dari musallas dua puluh pound). Ucap penjaga gerbang pada mereka.
Llaw keda hati itnen gineh kamaan" (Kalo gitu dua pon lagi deh). Pintanya lagi.
"Ya ifa... dafa'ti kem?" (Ifa.. kamu bayar berapa tadi?). Tanya penjaga asrama lagi padaku.
"Tamaniyah gineh" (Delapan pound). Jawabku lalu berniat pergi.
"Hati itnen gineh kamaan..." (Beri kami dua pound lagi). Anak dengan perban tebal itu merengek sambil menarik bajuku.
Akhirnya aku membayar ongkos itu sepuluh pound. Sama mahalnya dari ongkos taksi.
Penjaga gerbang itu menegur kami selepas kami membayar denda atas keterlambatan kita. Aku lupa nagaimana susunan kalimatnya, yang pasti, ia bertanya "kalian bayar sepuluh pon ke anak tadi trus bayar sepuluh pon denda... gak sayang tuh uangnya?...biasanya ongkos tuk tuk tiga pound loh..." Aku hanya tersenyum.
Di negri ini aku belajar bagaimana menghargai orang dan menghargai uang. Aku tahu mengapa ia berkomentar seperti itu. Karena menurut mereka ongkos yang kita berikan tadi sangat mahal. siapapun tahu biaya hidup di zaman ini sangat mahal, dan jika mereka tidak butuh uang mana mungkin ia rela bekerja siang malam menjaga gerbang asrama beserta penjaga gerbang lainnya. Walau kadang aku merasa satu pound yang sama dengan seribu delapan ratus lima puluh rupiah itu tak begitu berarti, tapi dengan melihat keadaan sekitarku, Satu pound tentu sangat berrti. Bahkan tanpa uang seperempat pound pun tak akan menjadi seribu pound.
Sempat ku adukan hal itu kepada kekasihku suatu hari. Dan hebatnya, kata kata yang ia nasihatkan padaku selalu ajaib. Membuatku luluh dan lebih merasa bersyukur dalam menjalani hidup, walau banyak kutemui rintangan di dalamnya.
"Pernahkah kamu merasakan profesi mereka? tentu kamu akan menjawab tidak. Se-tidak menyenangkan hal apapun yang kamu jumpai atau bahkan kau rasakan, usahakan untuk tidak pernah mengeluh. Kamu tentu tahu Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan ummatnya untuk mengeluh. Cobalah untuk selalu bersyukur"
Walau tadi aku cerita dengan perasaan kesal yang menggebu gebu, ternyata aku melakukannya karna tidak mempunyai rasa syukur. Tidak bersyukur dengan nikmat yang tiada hentinya yang allah berikan kepadaku. Aku tahu, aku lupa bersyukur pada nikmat sehat, selamat, dan tentunya nikmat bisa berdiri menapaki bumi kinanah ini dan menjadi bagian di dalamnya.
Terimakasih ya Allah...
Atas seluruh nikmat yang telah engkau rizki kan kepada kami,
hambamu....
Belajar Dari Tuk-tuk
Kholifatunnisa
July 10, 2015
Kholifatunnisa
July 10, 2015
Kholifatunnisa
Integer sodales turpis id sapien bibendum, ac tempor quam dignissim. Mauris feugiat lobortis dignissim. Aliquam facilisis, velit sit amet sagittis laoreet, urna risus porta nisi, nec fringilla diam leo quis purus.
Related Articles
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)


0 comments:
Post a Comment