In Cerpen Opini

Kambing Conge

(Cerita Pendek)

“Nampaknya kita harus waspada, parasit bisa ada di hadapan kalian tanpa kalian sadari.” Kalimat itu tiba- tiba muncul dibenakku begitu saja. Seolah aku tak menyadari bahwa aku sedang bersama dengan pria yang diam- diam selama ini selalu kupuja. Andai aku menyadari apa yang sebenarnya terjadi, maka hari ini takkan masuk dalam daftar sialku.

Pagi ini aku berjanji untuk bertemu dengannya malam nanti. Dia adalah senior kampus yang terkenal ramah, lembut, tampan, dan juga pandai. Sebelum bertemu dengannya, kusiapkan menu masakan yang berhasil aku cari idenya di internet. Dia tahu aku sangat hobi dengan urusan masak memasak. Membuat masakan atau cake akulah jagonya. Membuat jus, pudding, atau makanan daerah pun rasanya tak terlalu merugikan. Setidaknya tampilannya sangat pas dengan apa yang ada di gambar.  Aku selalu ingin menghidangkan masakan special buatanku sendiri untuknya. Senangnya, ia menyukai semua masakanku dan memuji apapun yang kuberikan untuknya. 

Hatiku bercampur antara rasa senang dan tegang. Menanti perjumpaan kami. Biasanya kami bertemu setiap hari. Namun kemarin aku sangat sibuk sehingga tidak dapat berjumpa dengannya.  Biasanya kami menjelajahi tengah kota, sambil sesekali mencari tempat duduk yang nyaman. Atau sekedar keliling kota sambil jalan kaki dan sesekali memasuki satu dua toko. Tapi hari ini berbeda, dia mengajakku untuk memilihkan jam tangan bagus untuknya, lalu duduk di kafe sambil menonton bola.

Pelayan kafe datang hendak menanyakan pesanan kami. Saat itu, aku yang sedang bernyanyi seketika berhenti. Sambil tersenyum ramah, aku menggaruk kepala yang sebenarnya  tidak gatal. Salah tingkah. Pelayan itu memuji suaraku yang bagus. Aku hanya nyengir lebar. Saat pelayan pergi, kusodorkan kotak makanku ke hadapannya. Ia memuji harumnya masakanku saat tutup makanan itu terbuka. Aku sangat antusias menantinya menyantap masakanku. Dengan senyum lebar, kupandangi dia yang hendak menyuapkan makanan itu ke mulutnya.

Pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Melihat ekspresiku, ia bertanya padanya. “pacarmu?”. Tentunya dengan bahasa kota itu yang tak dapat kufahami betul karena sangat rumit. Pria yang duduk dihadapanku itu mengangguk ramah. Pelayan itu kembali pergi.
Setelah menyantap masakanku, kami mengobrol apa saja. Menceritakan aktivitas hari ini, curhat, atau sekedar basa basi menanyakan hal- hal yang tidak penting. Kami tertawa dan menyanyi bersama. Saat pelayan yang tadi menanyakan statusku itu lewat mengantarkan pesanan orang, ia sempatkan menyapa pria di hadapanku. “jika kau mencintainya, segera lamar dia. Kalian sangat serasi.” Pria di hadapanku mengangguk dan tersenyum manis. Aku tersipu malu.

Tak lama kemudian, handphone pria itu berbunyi. Ia mengangkatnya semenit dua menit. Tak lama dia izin untuk membeli pulsa. Ada yang penting, katanya. Tentu aku mengizinkannya. Saat ia kembali, ia izin lagi untuk menelpon seseorang. Tentu saja aku mengizinkannya lagi. Saat aku bertanya hendak menelpon siapa, ia bilang akan menceritakannya nanti, setelah telepon terputus.

Aku benar benar tak menyangka bahwa dia akan berbicara di telefon selama dua jam lebih. Aku tak faham dengan apa yang mereka bicarakan. Mereka berbicara bahasa daerah tempat pria itu tinggal. Bayangkan dua jam aku hanya mendengarkannya mengatakan bahasa yang tak kufahami arti dan maksudnya,menyaksikan tv layar lebar di depan atau sekedar mendengar ocehan orang- orang di sekitarku.  Aku teringat suatu ucapan orang yang mengatakan bahwa pria tak sanggup berbicara di telepon dengan pria lain dalam waktu lama. Maka kufikir pasti dia sedang menelfon seorang wanita. Terlebih dia membahasakan dirinya  “mas”.

Aku benar benar bad mood. Duduk bak orang bodoh sambil menatap kosong kedepan. Pembicaraan mereka begitu asyik. Akupun tak berani mengganggunya. Entah seperti apa ekspresiku saat ini, yang jelas aku sedang emosi. Tiba- tiba pelayan yang tadi menanyakan statusku itu datang lagi dan kali ini menyapaku. “hi friend” dengan bahasa inggrisnya yang sama sekali tidak fasih itu. Aku hanya menjawabnya dengan senyum kecut. Nampaknya walaupun kami berasal dari benua yang berbeda, ia faham betul bahwa aku sudah tidak ramah lagi. Aku memasang wajah bosan.

Pelayan itu  duduk di kursi sebelahku yang kosong. Lagi- lagi ia mennyakan statusku. Tapi kali ini beda. Ia bertanya pada kami berdua. Pria di hadapanku memberi isyarat kepadanya agar diam. Maka ia mengalihkan pandangannya padaku. Kujawab kami bersaudara. Lagi- lagi dia tak percaya dengan melontarkan pertanyaan lain. “saudara kandung.?” Aku mengangguk lagi. “Satu ibu satu bapak.?” Aku mengangguk lagi. “Serius.?” Lagi- lagi aku hanya mengangguk kesal. Aku tak menyangka dengan ucapan selanjutnya yang akan dia katakan. “Apapun status kamu buat dia, kalau aku jadi kamu, aku sudah pergi dari tadi” aku hanya megerutkan dahi. “Kamu faham maksud omongan saya?” Aku mengangguk (lagi). “Ayo lekas pergi tinggalkan dia” kali ini aku hanya melongo.

Setelah beberapa menit memikirkan omongan pelayan tadi, kuberanikan mengajaknya pulang. Ia mengangguk dan memberi isyarat sebentar lagi. Aku kembali merenungkan omongannya. Tanpa sadar air mataku berkaca- kaca. Seharusnya aku memang sejak tadi pergi meninggalkannya sendirian dengan handponnya. Tapi cinta buta membuatku masih menunggunya seperti orang bodoh disana.

Tak lama, ia mengakhiri pembicaraanya di telepon lalu membuyarkan lamunanku. Dengan tanpa rasa bersalah, dia bertanya: “Berapa lama aku membuatku menunggu”  “Hmmm” hanya itu yang bisa aku jawab. Lalu dia membuka pembicaraan baru tentunya dengan maksud meredam amarahku. Aku menanggapi seperlunya. Aku menunggu janjinya akan menjelaskan siapa yang dia telpon tadi. Tapi ia tak kunjung angkat bicara. Aku sudah terlalu bosan. Lalu aku mengajaknya pulang dengan dalih sudah larut malam. kami pun pulang. Ia mengantar sampai depan rumahku. Lalu bertanya lagi “kamu nggak marah kan?” aku tersenyum kecut. Ia menanyakan pertemuan esok kami. Dalam hati aku berjanji untuk tidak lagi pergi dengannya. Saat ku buka pintu rumah dan melihat jam, ternyata sudah pukul satu dini hari, padahal kami pergi pukul enam lewat setengah jam. Berapa jam dia menjadikanku kambing conge?



Related Articles

0 comments:

Post a Comment