In Cerpen Opini

menggenggam pelangi

Kepada dunia tempatku tumbuh beranjak semakin besar. Ternyata seperti ini rasanya menjadi dewasa. Hidup dalam hal yang samar, seolah aku harus membuka mata lebih lebar untuk melihat masa depan. Setiap detik waktu menjadi lebih berharga. Dan padanya aku bercerita bahwa aku akan tumbuh menjadi seperti ini dan itu. Aku juga bercerita pada waktu tentang orang disekitarku yang telah membentuk kepribadianku. Kadang aku juga bercerita tentang suami idamanku yang kuharap kelak dia akan menjadi imamku, dan ayah dari anak- anakku.
Ah, waktu… begitu asyiknya aku bercerita hingga aku lupa pada impianku. Tapi dari situlah aku mulai mengenal diriku sendiri.
“Hubunganmu dengan orang yang ingin mengajakmu menikah harusnya mendekatkanmu kepada Allah, bukan menjauhkanNya” nasihat itu bagai pukulan telak yang menghantam fisik dan psikis kami. Aku merasa malu begitupun dengannya. Diingatkan agar menyadari akan banyaknya kesalahan kami. Disamping itu aku merasa bersyukur karena Allah masih mengingatkanku dengan caraNya.

Perihal harapan yang dulu pernah ada.
Harapan yang tersemat didalam jiwa.
Harapan tetang rasa ingin bersama.
Harapan yang terganjal karena belum diberi kesempatan.
Kini harapan itu bak mutiara yang tersimpan rapi di dasar lautan.
Dibiarkan tersimpan di tempatnya hingga saatnya tiba.
Menunggu waktu mengizinkannya.
Lalu, apakah bila tiba saatnya harapan itu masih tetap ada?
Semoga, takdir Allah sama seperti harapan.
Indah pada waktunya.

Cinta itu layaknya pelangi. Dibentuk dengan lekungan yang sempurna. Dan menjadi lebih sempurna karna warnanya yang menyatu satu sama lain tapi tetap menampakkan keasliannya yang berbeda. Dia hanya akan terjadi karena ada air dan sinar matahari. Pantulannya itulah yang menghasilkan pelangi. Cinta. Terjadi karena ada dua insan yang berbeda. Pantulannya itu bernamakan cinta. Cinta memang seindah pelangi, tapi menggapainya saja aku tak mampu.
Kembali kuingat masa kecilku dimana aku bisa menangis dan mengadu saat temanku berbuat nakal. Ibuku memeluk dan menenangkanku. Sangat berbeda dengan keadaanku saat ini dimana aku takkan menangis kecuali jika hal yang buruk yang sangat menyakitkan menimpaku. Tangisanku benar- benar berasal dari dalam lubuk hati. Berbeda juga halnya ketika aku kecil, dimana aku bisa menangis dipelukan ibu. Menumpahkan segala emosiku disana.kini aku hanya bisa menggenggam rasa sakitku sendiri tanpa berani membaginya pada ibu. Aku harus merelakan rasa sakit itu tertanam dalam hati dan ingatanku.
Aku mencintaimu seperti kamu mencintaiku.
Meskipun apa yang terjadi, engkau tetap kekasihku.
Duhai kekasih, kamulah kekasihku.

Aku merasakan cinta itu. Dia pun merasakannya. kami. Tapi lagi- lagi waktu mempertemukan dan juga memisahkan. Aku dan dia dipisahkan dalam rentan waktu yang tak menentu. Mungkin takkan bersatu. Tapi inilah pukulan yang menyadarkan kami untuk menggapai pelangi yang tak hanya indah tapi juga penuh warna.
“Jarak ini bukan untuk menghukummu. Tapi ini untuk menjaga kita.” Begitu ucapnya. Memang yang kami lakukan terlihat kontroversi di beberapa kalangan. Tapi kami mengatakan bahwa kami ingin menjalani semua ini dengan cara kami.
“Kemuliaan seseorang itu terletak pada agamanya, harga dirinya (kehormatan), akalnya, dan hendaknya akhlaq berada dalam kedudukan yang sangat utama.” Begitulah kutipan nasihat yang kujadikan pedoman saat ini.

Dalam waktu beberapa bulan ini aku berada dalam proses mencapai kualitas yang lebih baik. Semua ini berkat Allah yang telah membukakan pintu hidayahNya agar aku berada dalam naungannya dan menjadi semakin dekat dengannya. Banyak pelajaran yang dapat kuambil. Kekuatan rasa dari nilai kebaikan itu memang ada. Tidak bisa dibohongi jika kita menyentuhnya dengan hati. Dalam setiap kebaikan memang selalu berakhir dengan kebaikan. Tapi alangkah nilmatnya jika kita bisa mendapatkan kenikmatan dalam setiap kebaikan. Selalu ada hikmah dalam setiap kebaikan.

Ya Allah… yang maha mencipta dan membolak balikkan hati. Jika kualitas islam saya saat ini baru sampai pada tahap iman, menjaga diri dari maksiat, hamba mohon istiqomahkan hamba agar semua yang saya lakukan ini dapat menggugurkan dosa- dosa hamba. Tetap tuntunlah hamba pada jalanMu. Berilah hidayahMu. Kucurkanlah secercah cahayamu yang dapat memeluk diri ini dan melunakkan hati yang beku ini dan menjadi bersih. Hingga setiap kenikmatan hidup dapat hamba syukuri setiap harinya. Jadikanlah hamba termasuk golongan orang- orang yang beruntung.

Waktu…denganmu aku tumbuh.
Sejak aku dilahirkan sampai saat ini.
Sekarang kau selalu membunyikan detak lebih keras untuk terus mengingatkanku akan usia yang terus bertambah. Terimakasih untuk waktu yang berpihak kepadaku. Yang memaksaku menyadari betapa aku tidak sendiri. Ada orang- orang disekitarku yang terkadang tidak terlihat tapi mereka peduli padaku. Kau mengajariku untuk lebih dewasa.
Waktu, ajari aku untuk terus mengerti.
Tentang makna hidup yang lebih baik.
Untukku.
Dan untuk orang lain.


Cairo, 13oktober2015
       00:32 AM



Related Articles

0 comments:

Post a Comment