Kepada dunia tempatku tumbuh
beranjak semakin besar. Ternyata seperti ini rasanya menjadi dewasa. Hidup
dalam hal yang samar, seolah aku harus membuka mata lebih lebar untuk melihat
masa depan. Setiap detik waktu menjadi lebih berharga. Dan padanya aku
bercerita bahwa aku akan tumbuh menjadi seperti ini dan itu. Aku juga bercerita
pada waktu tentang orang disekitarku yang telah membentuk kepribadianku. Kadang
aku juga bercerita tentang suami idamanku yang kuharap kelak dia akan menjadi imamku,
dan ayah dari anak- anakku.
Ah, waktu… begitu asyiknya aku
bercerita hingga aku lupa pada impianku. Tapi dari situlah aku mulai mengenal
diriku sendiri.
“Hubunganmu dengan orang yang
ingin mengajakmu menikah harusnya mendekatkanmu kepada Allah, bukan
menjauhkanNya” nasihat itu bagai pukulan telak yang menghantam fisik dan psikis
kami. Aku merasa malu begitupun dengannya. Diingatkan agar menyadari akan
banyaknya kesalahan kami. Disamping itu aku merasa bersyukur karena Allah masih
mengingatkanku dengan caraNya.
Perihal harapan yang dulu pernah ada.
Harapan yang tersemat didalam jiwa.
Harapan tetang rasa ingin bersama.
Harapan yang terganjal karena belum diberi kesempatan.
Kini harapan itu bak mutiara yang tersimpan rapi di dasar
lautan.
Dibiarkan tersimpan di tempatnya hingga saatnya tiba.
Menunggu waktu mengizinkannya.
Lalu, apakah bila tiba saatnya harapan itu masih tetap
ada?
Semoga, takdir Allah sama seperti harapan.
Indah pada waktunya.
Cinta itu layaknya pelangi.
Dibentuk dengan lekungan yang sempurna. Dan menjadi lebih sempurna karna
warnanya yang menyatu satu sama lain tapi tetap menampakkan keasliannya yang
berbeda. Dia hanya akan terjadi karena ada air dan sinar matahari. Pantulannya
itulah yang menghasilkan pelangi. Cinta. Terjadi karena ada dua insan yang
berbeda. Pantulannya itu bernamakan cinta. Cinta memang seindah pelangi, tapi
menggapainya saja aku tak mampu.
Kembali kuingat masa kecilku
dimana aku bisa menangis dan mengadu saat temanku berbuat nakal. Ibuku memeluk
dan menenangkanku. Sangat berbeda dengan keadaanku saat ini dimana aku takkan
menangis kecuali jika hal yang buruk yang sangat menyakitkan menimpaku. Tangisanku
benar- benar berasal dari dalam lubuk hati. Berbeda juga halnya ketika aku
kecil, dimana aku bisa menangis dipelukan ibu. Menumpahkan segala emosiku
disana.kini aku hanya bisa menggenggam rasa sakitku sendiri tanpa berani
membaginya pada ibu. Aku harus merelakan rasa sakit itu tertanam dalam hati dan
ingatanku.
Aku mencintaimu seperti kamu mencintaiku.
Meskipun apa yang terjadi, engkau tetap kekasihku.
Duhai kekasih, kamulah kekasihku.
Aku merasakan cinta itu. Dia pun
merasakannya. kami. Tapi lagi- lagi waktu mempertemukan dan juga memisahkan.
Aku dan dia dipisahkan dalam rentan waktu yang tak menentu. Mungkin takkan
bersatu. Tapi inilah pukulan yang menyadarkan kami untuk menggapai pelangi yang
tak hanya indah tapi juga penuh warna.
“Jarak ini bukan untuk menghukummu.
Tapi ini untuk menjaga kita.” Begitu ucapnya. Memang yang kami lakukan terlihat
kontroversi di beberapa kalangan. Tapi kami mengatakan bahwa kami ingin
menjalani semua ini dengan cara kami.
“Kemuliaan seseorang itu terletak
pada agamanya, harga dirinya (kehormatan), akalnya, dan hendaknya akhlaq berada
dalam kedudukan yang sangat utama.” Begitulah kutipan nasihat yang kujadikan
pedoman saat ini.
Dalam waktu beberapa bulan ini
aku berada dalam proses mencapai kualitas yang lebih baik. Semua ini berkat
Allah yang telah membukakan pintu hidayahNya agar aku berada dalam naungannya
dan menjadi semakin dekat dengannya. Banyak pelajaran yang dapat kuambil.
Kekuatan rasa dari nilai kebaikan itu memang ada. Tidak bisa dibohongi jika
kita menyentuhnya dengan hati. Dalam setiap kebaikan memang selalu berakhir
dengan kebaikan. Tapi alangkah nilmatnya jika kita bisa mendapatkan kenikmatan
dalam setiap kebaikan. Selalu ada hikmah dalam setiap kebaikan.
Ya Allah… yang maha mencipta dan
membolak balikkan hati. Jika kualitas islam saya saat ini baru sampai pada
tahap iman, menjaga diri dari maksiat, hamba mohon istiqomahkan hamba agar
semua yang saya lakukan ini dapat menggugurkan dosa- dosa hamba. Tetap
tuntunlah hamba pada jalanMu. Berilah hidayahMu. Kucurkanlah secercah cahayamu
yang dapat memeluk diri ini dan melunakkan hati yang beku ini dan menjadi
bersih. Hingga setiap kenikmatan hidup dapat hamba syukuri setiap harinya.
Jadikanlah hamba termasuk golongan orang- orang yang beruntung.
Waktu…denganmu aku tumbuh.
Sejak aku dilahirkan sampai saat
ini.
Sekarang kau selalu membunyikan
detak lebih keras untuk terus mengingatkanku akan usia yang terus bertambah.
Terimakasih untuk waktu yang berpihak kepadaku. Yang memaksaku menyadari betapa
aku tidak sendiri. Ada orang- orang disekitarku yang terkadang tidak terlihat
tapi mereka peduli padaku. Kau mengajariku untuk lebih dewasa.
Waktu, ajari aku untuk terus
mengerti.
Tentang makna hidup yang lebih
baik.
Untukku.
Dan untuk orang lain.
Cairo,
13oktober2015
00:32 AM


0 comments:
Post a Comment