In
Makna Dirgahayu RI Yang Ke-73
Posted on Thursday, 30 August 2018
Satu hari berselang pasca Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke 73, hari ini di Jakarta sedang ada agenda ‘Pembukaan Asian Games’. Gue sebagai rakyat Indonesia yang terdampar di negara Piramid cuma bisa berpartisipasi dengan membaca beritanya aja di sosial media. Maklum di rumah gue engga ada wifi, dan paket internet di Mesir itu mahal banget ya, jadinya gue akan menonton seremonial hebat itu pada lain waktu saat ada wifi gratis. Hehe.
Berbicara tentang ‘Kemerdekaan Republik Indonesia’, gue mau sedikit memulai semua ini dengan sebuah cerita. Sebenernya gue kesel sama seorang sahabat gue karena dia menulis suatu pertanyaan di story whatsapp nya yang hanya dengan membaca kalimat itu, gue langsung berapi-api. Gue kesal dan marah. Dia mengajukan pertanyaan begini: “Apakah nasionalisme bagian dari islam?”. FYI, dia menulis itu tepat beberapa jam sebelum kemerdekaan Indonesia (mungkin di Indonesia sudah hari kemerdekaan karena kan waktu di sini lebih lambat lima jam daripada di Indonesia). Dan temen gue itu dulunya bandel banget ngga peduli sama agama, eh gara-gara dia pengen taubat dan belajar dari internet jadinya dia sedikit menyimpang pengetahuan agamanya. Informasi tambahan, dia itu setuju dengan khilafah kaya jaman dulu gitu, (you know what I mean dia mirip-mirip golongan garis keras kan ya). Nah tapi dari pertanyaan dia, gue jadi terinspirasi untuk menuliskan kalimat ini ke kalian semua. Semoga dengan membaca apa yang akan gue sampaikan kalian menjadi semakin mencintai Indonesia Tanah Air beta yah.
Jadi ceritanya tahun lalu gue kan pulang ke Indonesia. Nah pas menjelang 17-an gue lagi di Jogja, ketemu sahabat gue yang tadi gue ceritain itu. Di sore itu kita ke alun-alun dan gue didatengin orang buat minta gue ngomong di depan kamera tentang arti kemerdekaan bagi gue. Nah pada saat itu gue engga mau karena jujur aja gue ngga bisa berkata dengan bahasa yang tersusun rapi tanpa ada persiapan, apalagi di depan kamera, apalagi topiknya agak berat. Kalo gue salah ngomong aja pasti gue akan menanggung malu seumur hidup dan dihujat netizen abis-abisan. Gue dengan menolak itu bukan berarti gue engga bisa memaknai kemerdekaan, hanya saja gue yang saat itu pola pikirnya belum sebagus gue yang sekarang- maksud gue kritis atau berfikir realistis- atau simpelnya gue masih abg labil yang belum sepenuhnya menemukan jati diri gue seperti apa. Nah karena pas tanggal 16 Agustus 2018 gue liputan buat agenda ‘Solawat Kemerdekaan’ ditambah malemnya gue baca status temen gue begitu, plus rasa bersalah gue karna setahun lalu gue sebodoh itu, jadinya gue mau menuliskan semua itu disini, ditambah ulasan tentang jawaban dari pertanyaan sahabat gue tadi.
Alhamdulillah pada kemerdekaan Indonesia ke-73 gue banyak berpartisipasi dalam memeriahkannya. Salah satunya dengan menyanyikan lagu ‘Tanah Airku’ di kanal Youtube nya narasi.tv. Kemudian gue juga meliput acara Solawat Kemerdekaan yang diadain PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Mesir. Lalu sebagai anak milenial yang bisa Corel Draw maka gue membuat pamflet ‘Dirgahayu Republik Indonesia ke-73’ untuk akun Suara PPMI. Dan juga diajak hadir dan ngeliput upacara 17-an di KBRI Kairo (Tapi yang ini gagal karena gue ketiduran, setelah kerja lembur seharian). Tapi intinya gue seneng lah bisa berkontribusi meskipun belum seberapa. Semua itu sebagai bentuk rasa syukur gue karena bisa merasakan betapa nikmatnya menjadi bangsa yang merdeka.
Makna kemerdekaan bagi gue itu ada banyak, intinya sih mencintai tanah air dengan menjaga nama baiknya. Detailnya begini: merdeka itu secara bahasa ya bebas dari penjajah. Tanah air Indonesia sudah sepenuhnya berada di tangan bangsa Indonesia, lalu bagaimana memanfaatkannya? Tentu jawabannya adalah dengan mencintai tanah air. Manifestasinya ya dengan rajin belajar, berkarya dan berjuang demi nama baik Republik Indonesia, ikut serta melestarikan budaya, berpartisipasi dalam mencerdaskan anak bangsa, menjaga moral, etika, dan sopan santun sebab kita menyandang nama bangsa Indonesia, berbudaya seperti budaya Indonesia.
Membahas mengenai makna kemerdekaan dalam diri masing-masing itu menurut gue ada masa perkembangannya seperti tumbuh kembang anak. Jaman SD pasti kalo gue ditanya itu yakin banget gue pasti cuma bisa celingak-celinguk trus nanya jawabannya ke Ibu gue atau guru gue. Jaman SMP mungkin bisa jawab sekedarnya. Jaman SMA ya buat anak yang berprestasi pasti jawabannya udah keren, tapi buat anak yang semuanya cuma karena kewajiban atau ikut-ikutan pasti searching dulu di internet buat ngejawab pertanyaan itu. Tapi intinya menurut gue makna kemerdekaan itu akan bisa terjawab dengan jawaban yang tepat saat lo udah nemuin jati diri lo. Saat lo tahu apa tujuan hidup lo, apa impian lo, apa cita-cita lo. Setidaknya itu yang gue rasain.
Harapan gue banyak banget buat negeri ini, dan pasti ditujukan kepada generasi muda Indonesia yang kelak akan menjadi pemimpin negerinya seperti kata pepatah arab: ‘Pemuda zaman ini adalah pemimpin di masa depan’. Gue berharap semoga Indonesia menjadi negara yang aman, damai, makmur, sentosa. Semoga rakyat Indonesia lebih ramah lingkungan dalam artian tidak buang sampah sembarangan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, meminimalisir polusi udara dengan senang naik angkutan umum dan senantiasa berjalan kaki maupun bersepeda. Kemudian semoga seluruh rakyat Indonesia semakin mencintai budaya bangsa dan melestarikannya. Dan gue juga berharap semoga rakyat Indonesia lebih mengedepankan moral dan etika dalam bertindak maupun bertutur kata.
Harapan buat diri gue sendiri semoga gue bisa lebih memaknai kemerdekaan Indonesia dengan giat belajar, semoga gue bisa mengharumkan nama baik Indonesia, semoga gue bisa berkontribusi banyak untuk negeriku tercinta. Amin. Dan gue seneng tentunya bisa tinggal di negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia pertama kali. Gue berharap hubungan baik yang terjalin antara Indonesia dengan Mesir akan senantiasa ada. Untuk cerita Mesir dan kemerdekaan Indonesia akan gue sajikan di kesempatan lain, in sya allah.
Nah sekarang kita bahas topik penting mengenai “Apakah nasionalisme bagian dari islam?”. Jawabannya IYA tentu. Orang yang ngejawab pertanyaan itu dengan jawaban tidak pasti dia ngga paham arti nasionalisme secara bahasa. Nasionalisme itu berarti cinta tanah air. Apa dia tidak ingat sabda Rosulullah: حب الوطن من الإيمان yang artinya cinta tanah air itu bagian dari iman. Tidakkah dia ingat sejarah hidup Rosulullah saat memperjuangkan tanah Mekkah di hari Fathu Makkah?. Apakah dia tidak tahu kenapa Rosulullah memperjuangkan tanah Mekkah?. Selain karena disitu ada ka’bah, disana juga Rosulullah SAW dilahirkan. Tumbuh dan dibesarkan di tanah Mekkah. Itu salah satu bukti bahwa Rosulullah SAW mencintai tanah airnya.
Sekarang kita bahas hubungan antara nasionalisme dengan tujuan syariat islam. Syariat islam itu mengandung lima unsur: menjaga diri, menjaga harta, menjaga agama, menjaga akal dan menjaga tanah air. Dari sini aja udah jelas kalo nasionalisme bagian dari islam. Gausah dijelasin pannjang lebar udah, yang ngomong nasionalisme bukan bagian dari islam itu pikirannya (agak) menyimpang. Ulasan tentang nasionalisme bagian dari tujuan bersyariat ini udah gue jelasin di tulisan gue sebelumnya yang berjudul ‘Peringati HUT RI, Syekh Muhanna: Saya Bangga Dengan Mahasiswa Indonesia’. Silahkan baca (promosi dikit uyee :p)
Jujur aja gue baru bisa merasakan kecintaan gue pada tanah air yang ternyata cinta gue teramat dan begitu tulus, saat gue udah merasakan bagaimana tinggal di luar negeri. Hidup di benua lain dengan rasa makanan yang tidak cocok di lidah, cuaca yang tidak seindah di Indonesia, manusia yang tidak sama adat istiadatnya dengan di negeri kita, dan lingkungannya yang beda banget. Semuanya tentang Indonesia selalu gue rindukan di setiap pijakan kaki gue di bumi kinanah ini. Sampe-sampe kalo lagi nyanyiin lagu ‘Indonesia Raya’ pasti ada air mata yang sudah membendung di mata dan gue tahan-tahan agar tidak jatuh (kemudian membanjiri pipiku dan menghapus makeup-ku perlahan- yang ini gue engga serius guys :D). Terimakasih ya Allah sudah beri aku kesempatan untuk bisa merasakan semua ini.
Dan yang terakhir, meskipun tinggal di luar negeri, tapi gue in sya allah tidak lupa untuk melakukan banyak hal dalam mengisi kemerdekaan Indonesia. Gue akan terus berupaya untuk mengharumkan negeri kebanggaan gue Indonesia dengan rajin belajar, sopan santun dalam bertindak maupun berbicara, menjaga nama baik tanah air beta, semangat berkarya, senantiasa berdoa demi keutuhan bangsa dan negara, serta gue akan terus mencintai nusantara.
Gue nulis cuap-cuap ini dengan bahasa anak milenial ya karena memang ingin memberikan pemahaman simpel kepada anak muda yang bertanya “Apakah nasionalisme bagian dari islam?”. Itu jawaban tadi emang simpel banget dan pake contoh yang sederhana aja biar lebih bisa dipahami. Segitu aja ngobrolnya kali ini, karena gue masih banyak yang perlu dilakukan. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.
Sebelum ditutup, gue mau ingetin ke semua orang buat sama-sama berpartisipasi untuk mengisi kemerdekaan Indonesia setiap saat selama hayat masih di kandung badan. Mari cintai bahasa Indonesia, lestarikan budaya daerah, pelajari bahasa asing (udah kaya program duo bujang yang di narasi.tv aja) demi kejayaan indonesia. Tanamkan dalam diri cinta tanah air, hargai perjuangan pahlawan kemerdekaan dengan sebaik-baiknya. Pesen gue satu: jangan sia-siakan masa muda lo dengan hal-hal yang bisa membuat hancur diri lo, keluarga lo, bahkan negara lo. Jangan. Kembangin aja passion lo mumpung lo diberi kemerdekaan yang sempurna, secara fisik lo merdeka, pikiran lo merdeka, negara lo merdeka, jangan sia-siain semua itu. Gue pamit undur diri, baay.
Tulisan ini dibuat tanggal 18 Agustus 2018, tapi lupa gue posting dan baru inget hari ini. Late post gapapa yang penting tetep post 🤣
Makna Dirgahayu RI Yang Ke-73
Kholifatunnisa
August 30, 2018
Kholifatunnisa
Integer sodales turpis id sapien bibendum, ac tempor quam dignissim. Mauris feugiat lobortis dignissim. Aliquam facilisis, velit sit amet sagittis laoreet, urna risus porta nisi, nec fringilla diam leo quis purus.
Related Articles
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)
0 comments:
Post a Comment