Wihdah PPMI Mesir bekerja sama dengan Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Senat Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyyah dan Keputrian Keluarga Mahasiswa Nusa Tenggara Barat mengadakan Pelatihan Terjemah Koran pada Minggu (22/07). Even tersebut diadakan karena kondisi mahasiswa Indonesia di Mesir yang memprihatinkan dari segi informasi.
“Kami bekerja sama mengadakan agenda ini agar mahasiswa Indonesia faham dan tidak buta informasi khususnya tentang Mesir baik dari segi politik, ekonomi, maupun sosial. Program ini bertujuan agar semua mengetahui berita dari sumber yang terpercaya sehingga beritanya akurat,” papar Ketua Panitia Acara Aida Fitrya.
Presiden PPMI Mesir Saeful Jihad dalam sambutannya menyampaikan appresiasi atas terselenggaranya acara tersebut. Ia berpesan kepada seluruh peserta agar memanfaatkan hasil dari agenda itu dengan sebaik mungkin serta mengapplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pihaknya juga menghimbau kepada seluruh organisasi di bawah naungan PPMI Mesir agar senantiasa mengadakan program yang mendukung perkembangan potensi akademik.
Training itu juga dihadiri oleh perwakilan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo Cecep Taufiqurrahman yang juga mengappresiasi terlaksananya kegiatan itu. Selain itu ia juga menceritakan bahwa dirinya juga menekuni dunia terjemah dan mendapatkan banyak manfaat darinya baik dari segi ekonomi, sosial, maupun keilmuan. “Nilai plus mahasiswa Al-Azhar yaitu pintar berbahasa arab dan pandai terjemah. Oleh karena itu fikirkan follow up dari kegiatan ini. Era modern tidak melihat dimana belajarnya, tapi siapa dan punya kemampuan apa,” ujarnya.
Lalu Turjiman selaku pemateri mengatakan bahwa penerjemahan koran berbahasa arab sangat penting dilihat dari posisi strategis Mesir baik dalam dunia politik, kekayaan warisan sejarah dan budaya, maupun sentral kajian islam. Selain itu, karakteristik koran dan majalah yang berbeda dengan bahasa teks dalam buku juga menjadi faktornya.
Mahasiswa Institut Liga Arab itu melanjutkan bahwa terjemah sudah menjadi spesialisasi ilmu yang mencakup studi kebahasaan dan studi kontrastif antara bahasa asal dan bahasa yang akan digunakan untuk terjemah. Menitikberatkan pada aktivitas praktis, terjemah juga membutuhkan berbagai persiapan meliputi pemahaman bidang bacaan, membaca secara skimming, penguasaan kaidah kedua bahasa, dan ketersediaan kamus. Ia juga menjelaskan tentang unsur-unsur kontrastif dalam bahasa Indonesia dengan masing-masing contoh dari bahasa arab maupun bahasa Indonesia.
“Setiap penerjemah adalah penghianat. Translator tidak menerjemahkan kata per-kata, melainkan ada perubahan posisi dari setiap kata agar kalimat tersebut bisa dipahami dengan baik dan disampaikan dengan bahasa yang sesuai,” ungkapnya.
Tidak hanya diberi materi, peserta juga diperintahkan untuk menerjemahkan satu paragraf berita sebelum acara dimulai. Selanjutnya berita itu dikoreksi dan diberikan penilaian baik dari segi pemilihan kata yang tepat maupun dari kaidah penulisan berita bahasa Indonesia.
Setelah materi selesai, peserta juga diminta membuat grup untuk menerjemahkan satu berita penuh dalam waktu dua puluh menit dan mempresentasikannya. Setiap peserta dituntut aktif mengemukakan komentar pada berita yang dibacakan peserta lain, maupun menyanggah komentar dari para komentator. Hal itu bertujuan agar peserta bisa membandingkan hasil terjemahan beritanya, sebelum dan setelah penyampaian materi selesai.
Dosen Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten itu juga berpesan agar para peserta menerapkan apa yang didapatkan pada kesempatan ini. “Ini adalah awalan, bukan akhiran,” katanya mengakhiri acara.
0 comments:
Post a Comment