In Kuliner Lifestyle

Popularitas Kopi Kian Meningkat Dukung Bangkitnya Jiwa Kreatifitas Anak Muda 


Oleh: Kholifatunnisa

Pendahuluan:
Kopi telah melalui sejarah dari masa ke masa. Meskipun sempat diharamkan pada empat abad silam oleh para rohaniwan dan sebagian penguasa, minat terhadap kopi justru tak lantas pudar begitu saja namun kian digemari. Larinya para penjual kopi di masa kekaisaran Ottoman ke Perancis, Italia, dan Austria yang disebabkan pelarangan kopi oleh penguasa menyebabkan satu persatu warung kopi bermunculan di Inggris dan Belanda. Hal tersebut membuktikan bahwa minat dunia pada kopi tidak pudar.

Pada tahun 1870-an, kedai kopi mulai populer di Jakarta, hingga pada awal abad ke 20 pun kedai kopi semakin menjamur di sana. Beberapa tahun Kemudian semua kalangan bisa mendapatkan kopi dengan mudah dengan adanya pabrik-pabrik yang memproduksi kopi instan dalam kemasan. Meskipun hal tersebut mengakibatkan bisnis penjaja kopi mulai meredup, namun usaha itu bukan berarti mati, hanya saja jumlah penjualannya mengalami penurunan. Kedai-kedai kopi tua itu masih berdiri hingga kini di Gondangdia, Senen, maupun di luar Jakarta seperti di Semarang, Medan, Priangan, Bandung, hingga Kepulauan Bangka Belitung. Kini minuman hitam itu semakin diminati, dengan menjamurnya warung kopi modern di berbagai daerah di Indonesia.

 Indonesia dengan karunia wilayahnya yang begitu luas dari Sabang sampai Merauke, membentuk beragam potensi yang mengisyaratkan betapa kaya dan makmurnya negara Indonesia. Dengan modal itu, negara ini mampu untuk menjadi lebih unggul dibanding negara-negara lain. Dalam bidang kopi misalnya, dataran tinggi Indonesia merupakan penghasil kopi terbaik bahkan mampu menyuplai tujuh persen kebutuhan kopi dunia.

Menurut data Kementerian Pertanian RI sebagaimana yang dilansir idntimes.com, Indonesia merupakan produsen kopi terbesar di dunia, setelah Brazil dan Kolombia. Setidaknya ada 16 jenis kopi lokal yang diminati pasar internasional. Diantaranya Kopi Arabika Gayo Sumatera, Kopi Arabika Kintamani Bali, Kopi Arabika Toraja, Kopi Arabika Java Ijen Raung, Kopi Liberka Rangsang Meranti Riau, Kopi Arabika Flores Bajawa, dan Kopi Robusta Temanggung. Pemaparan tersebut menunjukkan betapa lezatnya kopi nusantara digemari dan mendapat respon positif di kancah dunia.

Kedai-kedai kopi ternama di Mesir juga saya dan kawan-kawan saya dapati menyajikan salah satu jenis kopi kebanggan Indonesia Kopi Arabika Gayo Sumatera. Rupanya usut punya usut salah satu bagian kerjasama atase perdagangan KBRI Kairo dengan negara Mesir yang paling besar adalah dalam hal kopi. Hal ini memiliki nilai perdagangan mencapai 8,4 Miliar seperti yang dilansir detik.com pada Januari, 2019. Disebutkan juga bahwa pangsa kopi Indonesia menguasai 47% pasar impor kopi Mesir atau senilai US$ 42,195 juta. Ekspor kopi Indonesia ke Mesir pada periode Januari-Oktober 2018 mencapai 24 ribu ton atau mengalami peningkatan sebesar 18,71% dibandingkan pada periode yang sama pada tahun 2017. Hal tersebut patut diapresiasi mengingat data yang disajikan hanya ekspor Indonesia-Mesir. Artinya, ekspor Indonesia ke negara selain mesir bisa jadi lebih besar atau lebih kecil, namun pada esensinya kopi Indonesia mendunia.

Adapun dalam hal pasar kopi di Indonesia, kreatifitas anak muda Indonesia melahirkan beragam variasi kopi yang memikat daya konsumsi masyarakat terhadap kopi baik dari kalangan muda maupun tua. Bukan hanya variasi kopi seperti yang bisa didapatkan di belahan bumi lainnya seperti mocca, latte, cappuccino, espresso saja, melainkan kopi dengan arang atau yang disebut kopi jos, es kopi dengan bubble, kopi keju, kopi jeruk, kopi matcha, rose macchiato, kopi bening, dan beragam kopi dengan varian menarik lainnya.

Hal tersebut tentunya perlu dikembangkan untuk dapat bersaing di pasaran. Gerai kopi yang memiliki keunikannya sendiri itu bisa meningkatkan eksistensinya baik di Indonesia hingga ke luar negeri. Sebab, popularitas kopi yang kian meningkat bisa jadi ajang adu kreativitas anak muda.

Namun, hal tersebut belum cukup tanpa adanya dukungan dari pemerintah. Sebab, permasalahan kopi ini berkaitan dengan lingkungan itu sendiri, kemudian pohon kopi dan yang berkaitan dengannya mulai pembibitan, pupuk, sampai masa panen, hingga pada pelaku usaha gerai kopi. Diperlukan adanya dukungan misalnya dengan diadakannya pengembangan industri indikasi geogratis kopi nasional, sertifikasi profesi barista, pelatihan kreasi kopi yang tidak hanya menghasilkan produk siap minum, melainkan juga menghasilkan parfum, aksesoris, dan produk kecantikan, hingga pemaksimalan penggunaan internet maupun sosial media sebagai wadah pemasaran produk kopi itu sendiri.

Penutup
Dalam hal ini, saya mengapresiasi pemerintah Indonesia yang telah mendirikan bekraf sebagai wadah pembekalan, pelatihan, serta pengenalan pelaku berbagai usaha kreatif Indonesia untuk dapat bersaing dengan produk lokal maupun internasional. Demikian juga kepada Atase Perdagangan KBRI Kairo yang telah menginisiasi pengadaan ‘Pelatihan Kopi dan Menjadi Barista’. Sebab, di era disrupsi ini memiliki skill saja belum cukup. Diperlukan dukungan dari seluruh elemen agar terealisasinya konsep optimalisasi sumberdaya yang disesuaikan dengan potensi kekayaan Indonesia, yang dalam hal ini dengan pemaksimalan sumber daya hayati kopi Indonesia. Namun yang terpenting adalah partisipasi masyarakat intelektual dan kreatif untuk menjadi penggerak paling berpengaruh dalam keberhasilan program globalisasi kopi untuk menyadarkan dunia pada realitas kopi Indonesia di kancah internasional.

*Artikel ini diikutsertakan dalam seleksi peserta pelatihan kopi dan barista yang diadakan oleh Atase Perdagangan KBRI Kairo bekerjasama dengan Smart Club Egypt, Jakarta Coffe House, dan Barista and Coffe Institute. Alhamdulillah, saya berhasil terpilih sebagai peserta :D

*Artikel ini sepenuhnya menjadi hak panitia dan murni diupload sebagai arsip pribadi :)

Related Articles

0 comments:

Post a Comment