Jujur saja, sejak sebelum pulang ke Indonesia, atau setelah hampir sebulan di Indonesia tidak pernah kami berjumpa. Mungkin terakhir ketika makan eskrim di Mcd depan Bawabat, sebelum ujian musim panas. Dan, yang membuat saya tambah bahagia, malam pertemuan kita itu ditutup dengan janji liburan ke Ain Sokhna esok paginya. Hmmm, benar-benar liburan mendadak yang saya fikir akan sangat menyenangkan.
Sore itu kami makan bakso bersama, kemudian mampir ke kedai kopi Indonesia yang katanya punya kopi plus gula aren yang enak, hihi. Kemudian kami pulang dan pukul 03 pagi kami pergi bersama ke Ain Sokhna.
Jarak Ain Sokhna dari Kairo tidak terlalu jauh. Sekitar 200 KM, seperti Jakarta-Bogor mungkin. Kami tempuh dalam waktu kurang lebih tiga jam. Sebenarnya bisa saja lebih cepat dari itu. Tapi udara dingin membuat kami beberapa kali singgah di rest area untuk sekedar beli cemilan dan kopi, numpang buang air, hingga solat subuh. Ditambah kabut tebal yang menyulitkan jarak pandang kami, membuat ka Bram dan pengemudi lainnya harus menyetir mobil pelan-pelan.
Bagi perempuan seperti saya, solat subuh di Masjid merupakan momentum yang jarang sekali terjadi. Bukan karena malas, tetapi sepertinya kewajiban ke Masjid untuk solat berjamaah di Mesir benar-benar eksklusif hanya untuk laki-laki. Entah karena budaya islam, atau memang dunia Mesir yang patriarki. Lihat saja masjid-masjid kecil (kalau di Indonesia pasti disebut musola) di sekitar rumah, hanya menyediakan ruang bagi kaum pria, yang lantas langsung dikunci begitu solat berjamaah usai. Sangat jarang masjid-masjid kecil menyediakan ruang solat khusus untuk wanita. Dan sebelum subuh saya menyatakan kepada kawan saya; imas perihal momentum yang jarang sekali terjadi itu. Dia juga setuju.
Usai solat, kami bercengkrama dengan seorang pria Mesir yang kebetulan saat itu mengimami kami. Dia bukan marbot masjid, berseragam pekerja semacam cleaning service berwarna biru gelap.
"Kamu orang Indonesia?", tanyanya ke ka Bram.
Kak Bram mengangguk.
"Ahsan nas" puji pria itu. Maknanya kurang lebih seperti menyanjung orang-orang Indonesia yang katanya baik hati.
"Masri ahsan," sanjung ka Bram balik.
Lalu mereka saling melempar sanjungan untuk beberapa saat. Pemandangan yang sudah biasa kami temui. Orang-orang Mesir memang sejatinya ramah dan baik hati.
Kami para wanita hanya senyum-senyum melihatnya.
"Kalian tinggal dimana?", tanyanya lalu menyebutkan beberapa daerah sekitar, yang tentu saja tidak familiar di telingaku.
"Kami tinggal di Kairo. Ke sini hanya untuk berwisata,"
"Wah, saya disini juga sering berjumpa dengan orang-orang Rusia. Muslim disana banyak ya. Oh ya, Indonesia kan negara dengan umat muslim terbesar, ya. Orang-orang cina yang pernah solat disini juga mereka muslim," kata orang Mesir itu.
Obrolan ringan itu berlangsung sekitar 15 menit kemudian kami pamit untuk melanjutkan perjalanan. Ditutup dengan selfie berdua antara ka Bram dan pemuda Mesir itu. Sedangkan saya dan Imas sibuk mengabadikan interior masjid yang mini dan cantik.
Lalu kami segera melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan, kami disambut dengan pemandangan pegunungan berbatu nan tandus. Di sisi seberangnya, beberapa resort berdiri kokoh. Dibalik tempat peristirahatan itu, hamparan lautan membentang. Di seberang lautan sana merupakan benua Asia. Masih merupakan negara Mesir bagian Sinai-Dahab-Sharm el-Sheikh.
Beberapa menit kemudian kami singgah di tepi pantai yang tidak dimiliki resort. Kebanyakan hotel disana berdiri tepat di tepi pantai, sehingga pantainyapun menjadi private beach yang mereka punya. Jika ingin kesana, bayarnya sama dengan harga sewa hotel. Harganya berkisar satu juta rupiah hingga lima juta rupiah. Cukup mahal bagi mahasiswa seperti saya. Bagi kami, tak mengapa singgah di pantai mini yang kecantikannya ternodai sampah-sampah yang berserakan. Sudah jadi rahasia umum, orang Mesir memang jorok dan tak pandai jaga kebersihan. Pemandangan seperti itu sudah lazim.
Di seberang pantai mini itu (kusebut mini karena dia seperti tanjung yang lautannya menjorok ke dataran) ada hamparan gunung dan dataran yang sudah dipasangi plang hotel berbintang. Bangunannya belum jadi, masih berupa hamparan pasir saja. Beberapa tahun lagi pasti sudah jadi penginapan mewah. Mobil yang membawa kami ke Ain Sokhna diparkir disana. Kemudian kami bermain air dan berfoto hingga matahari terasa terik dan membakar kulit.
Jika Aleksandria adalah tempat berburu sunset, Ain Sokhna kebalikannya. Di Ain Sokhna, sunrise tampak begitu indah. Warnanya keemasan memantul ke seluruh cakrawala. Pecinta sunrise ada baiknya juga kesana. Selain Ain Sokhna, pelancong ke Mesir biasanya berburu sunrise di pegunungan sinai. Tapi saya tidak terlalu merekomendasikan tempat itu untuk berburu sunrise. Terlalu dingin, jauh, dan melelahkan.
Sebelum matahari benar-benar naik ke atas, kami menyempatkan sarapan disana. Duduk di atas bebatuan menghadap ke arah pantai. Kapal-kapal besar berlalu lalang di kejauhan menjadi pemandangan biasa disana. Beberapa puluh kilometer dari Ain Sokhna ada Port Said dan Terusan Suez yang terkenal itu.
Perjalanan yang menyenangkan itu harus segera berakhir akibat kesibukan bos Cataleya. Pukul 11.00 siang itu, dia akan menjemput tamu-tamu yang akan berwisata dengan jasa travelnya. Mau tak mau kamipun pulang ke Kairo.
Di sepanjang jalan, Imas dan kak Bram terus menyanyi seolah tidak ada tenaganya yang terkuras di pantai mini tadi. Sedangkan aku yang duduk sendirian di belakang merasa sangat lelah dan tidur begitu saja. Aku baru bangun begitu mobil ka Bram tiba di depan rumahku. Wow, benar-benar tidur yang pulas.
Demikian cerita singkat dengan judul Tiba-Tiba Liburan ke Ain Sokhna Bareng Bos Cataleya Travel. Sebenarnya ada beberapa aktivitas yang bisa kalian lakukan di Ain Sokhna. Seperti naik kereta gantung, makan seafood di restaurant, menginap di hotel mewah, dan lain-lain. Oh, ya.. untuk pengalaman seru traveling di Mesir, kalian bisa menyewa jasa private tour di Cataleya Travel, ya. Menginap di Homestay nya kak Bram di Kairo juga bisa.
Jangan lupa jalan-jalan ❤
Sore itu kami makan bakso bersama, kemudian mampir ke kedai kopi Indonesia yang katanya punya kopi plus gula aren yang enak, hihi. Kemudian kami pulang dan pukul 03 pagi kami pergi bersama ke Ain Sokhna.
Jarak Ain Sokhna dari Kairo tidak terlalu jauh. Sekitar 200 KM, seperti Jakarta-Bogor mungkin. Kami tempuh dalam waktu kurang lebih tiga jam. Sebenarnya bisa saja lebih cepat dari itu. Tapi udara dingin membuat kami beberapa kali singgah di rest area untuk sekedar beli cemilan dan kopi, numpang buang air, hingga solat subuh. Ditambah kabut tebal yang menyulitkan jarak pandang kami, membuat ka Bram dan pengemudi lainnya harus menyetir mobil pelan-pelan.
Bagi perempuan seperti saya, solat subuh di Masjid merupakan momentum yang jarang sekali terjadi. Bukan karena malas, tetapi sepertinya kewajiban ke Masjid untuk solat berjamaah di Mesir benar-benar eksklusif hanya untuk laki-laki. Entah karena budaya islam, atau memang dunia Mesir yang patriarki. Lihat saja masjid-masjid kecil (kalau di Indonesia pasti disebut musola) di sekitar rumah, hanya menyediakan ruang bagi kaum pria, yang lantas langsung dikunci begitu solat berjamaah usai. Sangat jarang masjid-masjid kecil menyediakan ruang solat khusus untuk wanita. Dan sebelum subuh saya menyatakan kepada kawan saya; imas perihal momentum yang jarang sekali terjadi itu. Dia juga setuju.
Usai solat, kami bercengkrama dengan seorang pria Mesir yang kebetulan saat itu mengimami kami. Dia bukan marbot masjid, berseragam pekerja semacam cleaning service berwarna biru gelap.
"Kamu orang Indonesia?", tanyanya ke ka Bram.
Kak Bram mengangguk.
"Ahsan nas" puji pria itu. Maknanya kurang lebih seperti menyanjung orang-orang Indonesia yang katanya baik hati.
"Masri ahsan," sanjung ka Bram balik.
Lalu mereka saling melempar sanjungan untuk beberapa saat. Pemandangan yang sudah biasa kami temui. Orang-orang Mesir memang sejatinya ramah dan baik hati.
Kami para wanita hanya senyum-senyum melihatnya.
"Kalian tinggal dimana?", tanyanya lalu menyebutkan beberapa daerah sekitar, yang tentu saja tidak familiar di telingaku.
"Kami tinggal di Kairo. Ke sini hanya untuk berwisata,"
"Wah, saya disini juga sering berjumpa dengan orang-orang Rusia. Muslim disana banyak ya. Oh ya, Indonesia kan negara dengan umat muslim terbesar, ya. Orang-orang cina yang pernah solat disini juga mereka muslim," kata orang Mesir itu.
Obrolan ringan itu berlangsung sekitar 15 menit kemudian kami pamit untuk melanjutkan perjalanan. Ditutup dengan selfie berdua antara ka Bram dan pemuda Mesir itu. Sedangkan saya dan Imas sibuk mengabadikan interior masjid yang mini dan cantik.
Lalu kami segera melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan, kami disambut dengan pemandangan pegunungan berbatu nan tandus. Di sisi seberangnya, beberapa resort berdiri kokoh. Dibalik tempat peristirahatan itu, hamparan lautan membentang. Di seberang lautan sana merupakan benua Asia. Masih merupakan negara Mesir bagian Sinai-Dahab-Sharm el-Sheikh.
Beberapa menit kemudian kami singgah di tepi pantai yang tidak dimiliki resort. Kebanyakan hotel disana berdiri tepat di tepi pantai, sehingga pantainyapun menjadi private beach yang mereka punya. Jika ingin kesana, bayarnya sama dengan harga sewa hotel. Harganya berkisar satu juta rupiah hingga lima juta rupiah. Cukup mahal bagi mahasiswa seperti saya. Bagi kami, tak mengapa singgah di pantai mini yang kecantikannya ternodai sampah-sampah yang berserakan. Sudah jadi rahasia umum, orang Mesir memang jorok dan tak pandai jaga kebersihan. Pemandangan seperti itu sudah lazim.
Di seberang pantai mini itu (kusebut mini karena dia seperti tanjung yang lautannya menjorok ke dataran) ada hamparan gunung dan dataran yang sudah dipasangi plang hotel berbintang. Bangunannya belum jadi, masih berupa hamparan pasir saja. Beberapa tahun lagi pasti sudah jadi penginapan mewah. Mobil yang membawa kami ke Ain Sokhna diparkir disana. Kemudian kami bermain air dan berfoto hingga matahari terasa terik dan membakar kulit.
Jika Aleksandria adalah tempat berburu sunset, Ain Sokhna kebalikannya. Di Ain Sokhna, sunrise tampak begitu indah. Warnanya keemasan memantul ke seluruh cakrawala. Pecinta sunrise ada baiknya juga kesana. Selain Ain Sokhna, pelancong ke Mesir biasanya berburu sunrise di pegunungan sinai. Tapi saya tidak terlalu merekomendasikan tempat itu untuk berburu sunrise. Terlalu dingin, jauh, dan melelahkan.
Sebelum matahari benar-benar naik ke atas, kami menyempatkan sarapan disana. Duduk di atas bebatuan menghadap ke arah pantai. Kapal-kapal besar berlalu lalang di kejauhan menjadi pemandangan biasa disana. Beberapa puluh kilometer dari Ain Sokhna ada Port Said dan Terusan Suez yang terkenal itu.
Perjalanan yang menyenangkan itu harus segera berakhir akibat kesibukan bos Cataleya. Pukul 11.00 siang itu, dia akan menjemput tamu-tamu yang akan berwisata dengan jasa travelnya. Mau tak mau kamipun pulang ke Kairo.
Di sepanjang jalan, Imas dan kak Bram terus menyanyi seolah tidak ada tenaganya yang terkuras di pantai mini tadi. Sedangkan aku yang duduk sendirian di belakang merasa sangat lelah dan tidur begitu saja. Aku baru bangun begitu mobil ka Bram tiba di depan rumahku. Wow, benar-benar tidur yang pulas.
Demikian cerita singkat dengan judul Tiba-Tiba Liburan ke Ain Sokhna Bareng Bos Cataleya Travel. Sebenarnya ada beberapa aktivitas yang bisa kalian lakukan di Ain Sokhna. Seperti naik kereta gantung, makan seafood di restaurant, menginap di hotel mewah, dan lain-lain. Oh, ya.. untuk pengalaman seru traveling di Mesir, kalian bisa menyewa jasa private tour di Cataleya Travel, ya. Menginap di Homestay nya kak Bram di Kairo juga bisa.
Jangan lupa jalan-jalan ❤




0 comments:
Post a Comment