In Ceritaku Opini

Cerita Hari Ini Tentang Diskusi Jurnalistik Informatika


Hari ini gue diundang ke acara informatika; ‘’Menyoal Jurnalistik Masisir; Kode Etik dan Kebebasan yang Dipertentangkan’’. Overall bagus sih acaranya. Temanya bagus, pembicaraan yang diangkat itu menarik lah bagi gue, makanya pas gue diundang ke sana sebagai tamu, gue bela-belain dateng juga meskipun gue lagi kurang sehat. Juga karena malem sebelum hari H, pimpinan informatika (yang ngga sengaja ketemu di MFD)  nyuruh gue dateng dan diskusi soal topik itu, sih.

Gue termasuk orang yang biasanya riset kecil-kecilan dulu sebelum dateng ke acara. Minimal gue tau bahasan yang akan dibahas seperti apa, pembicaranya siapa dan track recordnya gimana, juga karena gue suka merasa bodoh aja kalo gue buta banget tentang materi yang dibahas kek apa, meskipun gue emang bodoh si. Hehe
Jadi seperti biasa, acara yang dijadwalkan jam satu itu baru dimulai abis ashar.

Dibuka oleh MC, Sambutan oleh Pimpinan ICMI Kairo, pak ATDIK, dan Pinum Informatika, isinya hampir sama; mengucapkan selamat atas ulang tahun Informatika, mengappresiasi Informatika yang sudah mewadahi acara itu, dan pembahasan-pembahasan seputar kode etik jurnalis yang sebenarnya dasar-dasarnya sudah diajarkan nabi di hadis ayatul munafiq poin pertama; idza hadasa kazaba, dan semisalnya.

Sebenernya tema ini udah pernah gue bahas juga, berdua sama MasMus, tentang profesionalitas jurnalistik masisir, manajemen resiko, dan fungsi media masisir yang fungsi jurnalistiknya masih belum maksimal dijalankan. Tapi, ini baru seputar obrolan di diskusi kita berdua (eh takut ditegor KPI). (Tenang aja, kita ngobrolnya di asob yang selalu rame). Tapi setidaknya topik ini tuh bukan topik baru di kalangan pegiat jurnalisme masisir. (Meskipun gue bukan expert sih). Dan gue kecewa begitu Masmus ngga diundang sebagai pembicara, soalnya menurut gue dia paham banget soal hal-hal seputar jurnalistik dan media secara professional.

Ka Zulfa, senior idola gue, hadir sebagai moderator. Tapi jujur, gue ngga suka kalo sekelas ka Zulfa yang jadi moderator. Menurut gue, dia tukeran aja sama kak Neng (Wakil Ketua Wihdah). Karena, ka Zulfa kan penyiar radio di Mesir dan juga aktif di jurnalisme masisir. Menurut gue, beliau bisa jadi pemateri tentang topik; jurnalistik dan kebebasan pers masisir yang dipengaruhi oleh kondisi sosial geografis politik Mesir, gitu. Kan beliau pasti tahu dong. Beliau kan penyiar radio di Mesir dan juga suka baca-baca buku keren tentang sastra arab, suka baca novel Mesir, dll yang pasti kisah-kisah fiksi itu diangkat dari realita yang terjadi, gitu. Yang kalo kata pak Usman Syihab, kondisi politik  Mesir juga mempengaruhi kebebasan pers masisir. Tapi masalahnya, kok topik ini ngga dibahas pemateri dari awal sampe akhir, gitu. Sedangkan kalo ka Neng kan seperti yang dia bilang pas dia mulai bicara, dia bukan aktivis jurnalis di masisir, jadi menurut gue ini kurang pas, gitu. Ya sekali lagi ini menurut gue pribadi, kalau mau mengomentari opini gue, komentari diri gue aja silahkan, tapi tanpa embel-embel Suara PPMI, yah - seperti yang biasanya orang lain lakuin ke gue-. Eh, jadi curhat.

Dan ka zulfa sebagai moderator memberikan ruang untuk ka Fardan yang juga idola banyak orang itu untuk pertama angkat bicara; membahas kode etik itu seperti apa. Gue suka nih ka Fardan jadi pembicaranya, pas lah. Prolog yang dipake beliau juga menarik; lagu tentang kisah Aghni anak UGM yang mengalami sexual harassement. Liriknya gue lupa, tapi ada satu bait yang isinya; redam warta jadi fiksi. Kak Fardan juga ngerekomendasiin dua buku yang ditulis oleh dua tokoh jurnalis di Indonesia yang bukunya dipakai untuk teori dan praktek reportase investigasi. Yang pertama bapak Dedi Suatmadjaya yang bukunya judulnya Reportase Investigasi apa gitu ya, ka Fardan ngomongnya kecepetan, ditambah kapasitas otak gue dalam menghafal sesuatu itu agak susah gitu jadi lupa deh. Pas kelar acara juga niat nanya eh lupa juga. Eh, curhat dikit. Hihi. Okay, buku yang kedua dari bapak Bondan Winarno yang judulnya Sebongkah Emas di kaki apa gitu gue lupa juga. Hehe. Yang intinya sih ngebahas kenyataan dibalik seseorang yang (tentu orng penting di masa itu) yang dikabarkan terjun dari helicopter ke tambang emas.

Terus pembicara kedua Abiyyu, temen gue se-fakultas. Aktivis PII dan yang juga dulunya nyemplung dalam dunia jurnalis masisir. Membahas tentang memahami kebebasan yang merupakan hak masisir sendiri; seberapa jauh jurnalis dalam mewarta berita. Intinya Abiyyu menyampaikan bahwa; kemunduran pers di Masisir yang terjadi sejak 2015 sama seperti indonesia di era orde baru. Yang mana kemunduran itu ditandai dengan kasus pemakzulannya ATDIK pak Fahmi Lukman, yang mana dia sendiri ikut dalam membuat berita itu.

Kemudian pembicara selanjutnya Ketua IJMA masisir, yang gue pribadi sejak liat pamphlet itu langsung nyinyir; emang IJMA masih ada? Ehe, sorry. Pembahasannya tentang krisis kebebasan jurnalis di masisir. Dia menyampaikan bahwasanya acara seperti ini sudah lama dia tunggu. Gue herannya kenapa dia ngga bikin acara kek gini aja sejak dulu, gitu. Kata gue dalam hati; apa dia ngga punya planning sejak diangkat menjadi ketua IJMA?. Well, gue pribadi ngga tau sih beliau diangkat oleh siapa, intinya gue baru denger IJMA mulai disebut-sebut ketuanya ka Mahmud itu oleh kak Najid. Yang ternyata, ka Mahmudnya sendiri udah jelasin gimana dia membangkitkan IJMA kembali, merancang kode etik jurnalis masisir sejak 2017. Tapi kalo gue pribadi jujur aja baru denger kalo sejak 2017 beliau udah bekerja untuk itu. Undercover sekali kerjanya.

Lagi-lagi menurut saya pribadi, beliau sebaiknya ngga perlu Panjang lebar jelasin tentang sejarah kode etik jurnalisme di indonesia yang mana sebagian pegiat jurnalisme pasti udah tau. Atau yang suka riset dulu kaya gue sebelum ikut acara pasti juga udah baca tentang itu, gitu. Itu hanya buang-buang waktu dan tenaga aja, sih.
Overall gue appresiasi kerja ka Mahmud yang katanya sudah susah payah merancang kode etik itu di computer ppmi tapi kemudian hilang. Beliau juga udah melobi untuk mengesahkan itu ke pejabat PPMI pada jaman itu yang katanya malah dibilang; nanti IJMA dibawah PPMI aja. Dan dia kecewa dengan hal itu kemudian enggan melanjutkan untuk mengupayakan kode etik jurnalistik masisir dan mengupayakan IJMA agar eksis di masisir lagi.

Tapi menurut gue, kalo gue boleh saran, ya ka Mahmud, menurut buku Self Driving-nya Prof. Rhenald Kasali, seorang Driver (change leader) yang baik itu harus menempuh berbagai cara untuk merealisasikan hal-hal yang baik dan benar untuk itu. Kalo ditolak dalam plan-A yang sudah dirancang, kenapa ngga coba plan-B nya?.

Oh, ya… gue juga kadang menyanyangkan masisir sebenarnya kurang paham etika kalau diberi ruang untuk bicara, ya. Waktu untuk berbicara dalam forum-forum diskusi seperti ini kan sedikit, harusnya pembicara ngga usah pake embel-embel salam, penghormatan, dan lain-lain seperti yang dilakukan oleh dua panelis di acara itu. Mungkin mereka kurang belajar etika bicara di depan public. Emangnya mereka fikir mereka lagi sambutan? Kan engga. Well, sorry gue suka kritik hal-hal detail kek gini. Oh ya, gue lupa. MC di masisir juga kebanyakan ngga memperhatiin masalah pengucapan ‘’waktu dan tempat kami persilahkan’’, yang mana itu kata guru Bahasa Indonesia gue jaman SMA, itu salah. Mon maap nih, gue biar pelajaran ngga banyak hafalnya, tapi setidaknya hal-hal yang mungkin remeh kek gitu suka nyantol di otak. Emang aneh akutuh. Intinya ka Mahmud bilang ada problem politik yang bikin IJMA ngga berjalan.

Kemudian ketua Forum Dialog Masisir (FDM) Ustaz Fakhrurozi dipersilakan angkat bicara. Beliau bilang FDM mendukung semua langkah positif yang masisir lakuin. Beliau juga memperkenalkan FDM bahwa pembicaraan di FDM sangat panas, kinerja FDM juga offline contohnya seperti diskusi di rumah Ustaz Aang yang ngebahas seratus sekian puluh mahasiswa Indonesia yang luntang-lantung studinya akibat terjun bebas dan ulah beberapa oknum juga. Well, ucapan  beliau sedikit mematahkan statement yang gue anggap bahwa FDM itu sebenernya forum lambe-lambean aja dan seperti debat kusir yang ngga ada eksekusinya aja. Ustaz Fakhrurozi juga bilang bahwa senior masisir siap untuk membimbing masisir dalam mengupayakan program-program positif.

Kemudian ada ka Neng Wakil Ketua Wihdah yang menjawab soal objek jurnalistik masisir. Ya tentu jawaban beliau yaitu; objeknya masisir, dong. Mana paham non-masisir apa istilah masisir. Kejadian di Mesir gimana. Intinya memberitakan dari masisir untuk masisir. Begitu katanya.

Yang terakhir sebagai pembicara adalah Fatah sebagai Ketua Media dan Informasi PPI Dunia, widiw, membahas tentang kode etik jurnalistik itu seperti apa. Beliau mengutip perkataannya Duktur Muhyiddin Abdul Hamid dalam bukunya yang berjudul Fununul I’lam wa Tiknologia el-Ittisol. Ada empat poin yang mendasari kenapa informasi bisa tersebar di khalayak umum; propaganda, edukasi, humas, dan informasi. Yang mana poin keempat ini yang menjadi ranah jurnalisme. Beliau juga membahas tentang Yudhistira Masaji yang merupakan anggota AJI medan, yang menyampaikan bahwa tantangan jurnalisme jaman dulu itu adalah penguasaan, kalo sekarang itu UU ITE. Selanjutnya gue kurang inget beliau bahas apa, karena gue sebenernya ngga enak badan juga jadi agak pusing dan ngga inget banyak hal.

Harusnya pembicaraan itu ditutup dengan janji kesepakatan untuk kumpul bersama untuk merealisasaikan apa yang sudah dibicarakan hari ini. Ya memang ajakan itu sudah ditawarkan mahmud, tapi kan, inti pembahasannya sebenernya belum dapet banget, gitu. Eh, ini menurut gue pribadi, ya. Trus juga gue menyayangkan ide dari Abiyyu yang begitu diminta jadi panelis, dia mengajukan; konsep diskusi ala Mata Najwa.

Masalahnya kalo Mata Najwa itu kan ada yang diperdebatkan jadi konsepnya pas lah begitu, tapi kalo tadi itu seperti seminar, sih bukan diskusi. Karena gue pribadi jujur aja gue kira kita bakal diskusi dalam artian dialog gitu. Jadi ada dialog aktif antara moderator, pemateri, dan juga public; penonton seperti gue. Karena gue pribadi udah nyiapin bahan obrolan seputar SUARA PPMI; yang tidak Suara PPMI katakan, dan harus orang-orang tahu. Lah orang-orang kan nganggepnya gue ngga punya kontribusi apa-apa dalam memajukan SUARA PPMI yang katanya udah mati itu.

Hmm gue juga tadi udah nyiapin pertanyaan yang ngga dibahas sama sekali ama pemateri disana, yaitu tentang kondisi sosial geografis Mesir yang menjadikan kebebasan pers masisir jadi ngga sebebas di indonesia. Kaya contohnya kasusnya si Merek Sabun Cuci itu yang katanya bersinggungan dengan orang-orang yang punya wewenang di Mesir. Tapi untungnya hal ini dibahas sama pak Usman Syihab yang di akhir acara, beliau cerita banyak hal yang gue suka. Oh, ternyata diplomat kek beliau pengalaman karirnya seperti itu.

Gue juga jujur aja menyayangkan ketidakhadiran PPMI di diskusi itu. Ya mungkin mereka punya kesibukan lain, Namanya juga pejabat. Wkwk...

Ala kulli hal, makasih Informatika udah ngadain acara seperti ini. Suer bagus tema acaranya. Keren juga gagasan dan terobosannya. Tulisan ini ngga nyinyir dan murni opini gue pribadi, kalua ada yang tersinggung please be kind! Mon maap, yaaa. Ini gaya bahasaku sehari-hari ya kek gini. Keep positive vibes!. Semoga Informatika dan ICMI Kairo makin jaya. Selamat ulang tahun ke 26, Informatika!

Related Articles

0 comments:

Post a Comment