In Travel

Winter Break ke Sinai, Dahab, dan Sharm el-Sheikh



Semua orang suk liburan. Anak kecil, orang tua, apalagi remaja kaya gue, yang lagi seneng-senengnya main terus.

Karna gue tinggal di Mesir, liburannya ada yang musim dingin, ada yang musim panas. Liburan musim dingin itu biasanya mulai sejak minggu terakhir bulan Januari, sampe pertengahan Februari. Sedangkan liburan musim panas, mulai dari akhir Juni sampe akhir September. 

Meskipun cuaca saat liburan musim dingin tidak bersahabat bagi orang Asia, gue pribadi ngga ngerasa itu adalah hambatan gue untuk pergi liburan. Karna selain kepuasannya beda, view yang didapet juga ngga kalah menarik, gaes.

Oh ya, di Mesir itu ada beberapa wilayah yang pas musim panas itu panasnya bisa sampe 50°C, dan cuaca disana pas musim dingin terasa hangat meskipun di wilayah lain ada saljunya. Nah daerah itu namanya Aswan, yang berbatasan dengan negara Sudan. Kalau dilihat di peta, daerah itu ada di bagian bawahnya Mesir.

Nah bagian atasnya itu ada Alexandria, Ismailiya, Damietta, dan laut mediterania yang berbatasan dengan Turki. Dan di bagian Kanannya ada provinsi Sinai yang berbatasan dengan Palestina, dan Saudi Arabia. 

Yang ngga banyak orang sadar, Mesir itu sebenernya terletak di dua benua, loh. Benua Afrika dan Asia. Keduanya dipisahkan oleh Terusan Suez.

Di Mesir bagian Afrika, disana letak semua provinsi di Mesir, kecuali satu; provinsi Sinai. Nah provinsi Sinai ini lah yang letaknya di bagian Asianya. Tentunya, wilayah Asianya Mesir jauh lebih kecil dari wilayah Afrikanya Mesir. Maka dari itu orang-orang menganggapnya Mesir terletak di benua Afrika.

Mungkin kalian bingung, harusnya kan gue ceritain tentang liburan. Ko jadi bahas masalah geografi? 

Menurut gue, sebagai traveler kita harus paham kondisi geografi wilayah yang akan dikunjungi. Dari situ, kita bisa tahu daerah mana yang cocok dikunjungi di musim panas, dan daerah mana yang pas dikunjungi di musim dingin.

Menurut banyak orang, Mesir merupakan negara di bagian Arab yang punya musim terbaik. Tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, meskipun di beberapa wilayah panasnya bisa sampai 50°, dan di daerah lain dinginnya bisa sampai -10°. 

Luxor, Aswan, dan sekitarnya yang berbatasan dengan Sudan adalah bagian terpanasnya Mesir. Wilayah ini cocok banget buat dikunjungi di Musim dingin karena suhu disana jauh lebih hangat dari wilayah Mesir lainnya. Selain itu, ada daerah Sinai yang juga ramai dikunjungi di Musim dingin, karena daerah itulah satu-satunya wilayah Mesir yang diguyur salju saat puncak musim dingin. Juga ada daerah White Desert yang cocok buat camping di musim dingin.

Sedangkan daerah yang cocok dikunjungi di musim panas yaitu Dimyath, Alexandria, Ismailiya, Ain Sokhna, Hurghada, karena wilayahnya terletak di tepi pantai. Ada juga daerah Siwa yang juga ramai turis di musim panas, karena pesona kebun kurmanya yang berbuah di musim panas.

Dari situ paham, kan?, meskipun musim dingin, banyak juga traveler yang berkunjung ke Mesir, tidak terkecuali bagi kami yang tinggal di Mesir juga tidak boleh kehilangan momen itu.

Winter break lalu, (Jan-Feb 2020) sebenernya gue ngga ke destinasi yang gue ceritain di tulisan ini, karena selain udah pernah kesana, gue juga lagi sibuk-sibuknya. Nah, cerita ini sebenernya kejadian di liburan musim dingin tahun 2019 yang belum sempat gue ceritain di blog gue. Maka, di lockdown yang benar-benar ngga ada kerjaan ini, gue manfaatin waktu untuk menceritakan momen traveling gue yang begitu berharga.

Jadi, di winter break tahun 2019 lalu, sekitar awal Februari gue memutuskan untuk ikutan trip ke Sinai, Dahab, Sharm el-Sheikh sama temen-temen gue. 

Berangkat pagi-pagi sekitar jam 7, dan planning awalnya; malam itu juga kita mau mendaki gunung Sinai. Tapi sekitar dua hari sebelum gue kesana, cuaca di Sinai dan Kairo sedang tidak baik. Hujan deras, sehingga bikin jalanan tergenang air di mana-mana. Dampaknya, jalan menuju Sinai pada hari itu ditutup, sehingga kami merubah planning.

Sekitar pukul 10 kita sampai di situs peninggalan nabi Musa. Disana ada sumur yang dinamakan sumur nabi Musa. Sumur ini disebutkan dalam alquran surat al-Baqoroh dan surat apa ya, lupa. Inti kandungan ayat itu begini: maka terpancarlah 12 mata air dari tongkat yang nabi musa pukul ke batu itu. Tapi akibat rentang waktu yang amat lama, sumur itu tinggal tersisa beberapa buah saja.

Kondisi sumur yang saat ini dengan saat dulu tentu sudah jauh berbeda, telah mengalami perbaikan dan renovasi untuk menjaga keutuhannya. Air di sumur itu juga tidak ada, hanya ada lubang berisi pasir.

Di sekitar sumur-sumur tua itu ada pohon-pohon kurma. Dari sumur itu, kita bisa melihat garis pantai laut Merah yang menjadi jalur pelayaran internasional berkat Terusan Suez.

Jika dilihat dari latar belakang cerita dan kondisi geografisnya, nampaknya kisah sumur Nabi Musa itu kejadian setelah Nabi Musa menyeberangi laut Merah saat dikejar pengikut Firaun.

Daerah Sinai ini dalam kitab suci umat islam; al-Quran, begitu kental dengan kisah nabi Musa dan pengikutnya. Artinya, perjalanan saya ke provinsi Sinai ini merupakan wisata ruhani bagi umat Islam dan Kristiani yang mengimani nabi Musa.

Dalam al-Quran juga disebutkan bahwa umat nabi Musa pernah terjebak di pegunungan sinai selama 40 tahun. Di daerah Sinai juga, nabi Musa menerima wahyu.

Di pegunungan Sinai, kaum Nabi Musa juga pernah meminta agar diperlihatkan bagaimana rupa tuhannya, dengan dalih akan beriman setelah melihatNya. Namun raga manusia tidak mampu untuk melihat Allah,  mengakibatkannya mati seketika. Nabi Musa yang juga pingsan akibat kejadian itu memohon kepada Allah agar menghidupkan kembali kaumnya. Maka Allah hidupkan mereka kembali. 

Konon, puncak pegunungan yang menjadi tempat nabi Musa menerima wahyu Allah adalah tempat yang kini menjadi destinasi wisata, yang juga bakal gue kunjungi.

Kembali pada perjalanan tadi, setelag mengunjungi sumur Nabi Musa, kami melanjutkan perjalanan ke Sharm el-Sheikh. Sebuah kota yang berbatasan dengan Saudi Arabia, yang terkenal dengan pesona pantainya yang indah. Selain itu juga ada old market dan masjid Sohabah yang sangat megah dan indah.

Kami tiba di Sharm el-Sheikh selepas waktu isya. Sharm el-Sheikh baru populer sejak tahun 2017, saat para investor asing merubahnya menjadi destinasi wisata. Hotel-hotel berbintang berdiri di sepanjang wilayahnya. Bisa dikatakan, daerah itu kini berubah menjadi kawasan elite. Pertemuan-pertemuan penting dan agenda rutin tahunan seperti world youth forum diadakan disana.

Sayangnya, kami hanya bisa berkunjung ke Masjid Shohabah dan old market saja. Karena keterbatasan budget dan waktu tentunya. Dari sana, kami menuju Dahab yang juga terkenal dengan pantainya.

Jarak Sharm el-Sheikh ke Dahab sekitar 100 KM. Kami menempuhnya dalam dua jam. Kami tiba di Dahab sekitar pukul 11. Setelah check in hotel, kami bermalam disana.

Paginya setelah sarapan kami jalan-jalan ke pasar Dahab yang instagramable. Letaknya di sepanjang bibir pantai Dahab. Disana ada bar, cafe, restaurant, hotel, dan toko souvenir yang unik dan menarik. 

Pasar Dahab sangat ramai di malam hari. Di pagi hari, suasananya sangat sepi dan tidak ada pengunjung sama sekali.  Untuk mengelilingi pasar Dahab, kita bisa berjalan kaki atau menyewa sepeda. Bersepeda di pasar Dahab di malam hari sangat menarik.

Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan jika berkunjung ke Dahab. Kalian bisa snorkeling, diving, naik Atv quadbike, naik atau glass boat.

Biasanya pihak hotel menawarkan paket-paket tersebut. Harganya bervariasi, mulai dari 100 ribuan per-aktivitas. Jika pihak hotel tidak menawarkan paket tersebut, kalian bisa pergi ke tourist center yang ada di pasar Dahab. Tourist center menawarkan ragam aktivitas dengan pemandu yang lancar berbahasa inggris.

Setelah puas berkeliling pasar Dahab, gue dan kawan-kawan balik ke hotel untuk makan siang dan tidur. Karena kami harus menyiapkan tenaga untuk mendaki gunung di malam harinya. 

Kami check out hotel pukul 02 siang. Dari sana, kami langsung menuju pusat pendakian gunung Sinai.

Sekitar pukul 05 lewat, menjelang matahari terbenam kami tiba di makam nabi Soleh A.S. Kami berziarah sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan kami.

Di sekitar makam itu juga ada makam nabi Harun dan situs patung Samiri. Namun akibat waktu yang sudah gelap, kami berniat untuk mengunjunginya keesokan hari, setelah mendaki gunung.

Saat maghrib tiba, kami tiba di tempat peristirahatan sambi menunggu jalur pendakian dibuka, pada pukul 12:00.

Tempat peristirahatan itu begitu sederhana. Hanya bilik dengan kasur kapuk tua seadanya. Di luarnya ada perapian, dapur, dan kamar mandi. Tidak ada penghangat, hanya ada selimut tipis saja. Udara saat itu sekitar 2° celcius, dan semakin dingin di malam hari.

Pukul 11 kami mulai meninggalkan peristirahatan menuju jalur pendakian. Sebelumnya kami sudah mengisi perut kami dengan makan malam, snack, dan minuman hangat.

Persiapan yang perlu dibawa saat mendaki adalah; air hangat, air biasa, tisu basah, snack, aromaterapi, baju hangat, jaket tebal, celana hangat, sepatu yang nyaman, syal, penutup kepala, dan senter untuk menerangi jalan.

Sebelum memasuki jalur pendakian, kami melalui bagian keamanan. Tanda pengenal diperiksa, isi tas juga diperiksa. Kemudian kami baru boleh mendaki gunung dipandu dengan guide berkebangsaan Mesir, yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali.

Medan pendakian gunung Sinai mungkin tidak seberat pendakian gunung di Indonesia. Mendaki Sinai hanya sekitar 4 jam, jarak naik turun kurang lebih 15 KM, dan pendaki harus sudah ada di meeting point pukul 9 pagi. Berbeda dengan mendaki di indonesia jarak dari pusat pendakian ke puncak begitu jauh, bekal harus cukup, tubuh harus fit, perlengkapan masak, dan tidur juga ngga boleh lupa adalah syarat utama. 

Tantangan mendaki sinai bagi gue pribadi adalah jalur yang licin, cuaca yang ekstrim, dan tidak ada toilet umum. So, itulah kenapa gue bilang tadi harus bawa air bersih buat minum dan persiapan kalo kebelet buang hajat.

Oh ya, jalur pendakian sinai sama kaya di Indo juga kok, ada pos-posnya. Disana ada bilik kecil yang biasa buat toilet dan ada warung tempat istirahat dan makan kalo laper.

Uniknya lagi, kalo males jalan kaki ke atas, kalian bisa naik onta dengan harga sekitar 250 rebu untuk naik aja. Untuk turunnya, bayar lagi dengan harga sama. 

Ya karena banyak onta lewat, jalanannya jadi agak bau karna ee onta. Kalian juga harus ngalah kalo ada onta lewat. Trus juga diomelin sama pemilik onta kalo lampu senter kalian kena ontanya. Katanya; onta bisa liat meskipun gelap, onta tau jalan. Matanya bisa rusak gara-gara lampu kalian.

Sebenernya menurut gue naik gunung sinai itu ngga worth it. Cape, dingin, trus kita di puncak cuma nonton matahari terbit doang. Ah kaya gitu doang gue juga bisa liat di Ain Sokhna.

Tapi meskipun begitu, kalo kalian mengunjungi Mesir, usahain buat naik gunung Sinai, ya. Karena, selain experience yang didapat, sejarahnya juga begitu banyak. Pokonya bikin kalian bersyukur deh pernah ada disana.

Jangan ditanya rasanya kaya apa, capenya naik sinai itu baru sembuh 3 hari kemudian, loh. Wah, gue jadi bersyukur naik sinainya di hari terakhir jalan-jalan. Karena dari sana kita langsung pulang, sampe rumah jam 12 malem, dan bisa langsung istirahat dirumah sampe capenya sembuh. Coba aja naik sinai dulu trus baru jalan-jalan, gue jamin gara-gara kecapean, gue yang moody ini pasti ngga akan muter-muter ke masjid sohabah dan old market, ngga akan keliling pasar Dahab juga, deh.

Begitu sampe di meeting point, gue ganti baju, cuci muka, makan, kemudian ke makam nabi Harun dan situs patung Samiri.

Sejarahnya, patung Samiri merupakan patung sesembahan kaum nabi Isa. Bentuk patungnya adalah bentuk sapi yang tengahnya bolong demi mengelabui orang-orang kalau patung itu bisa bicara.

Konon, patung yang bolong itu jika tertiup angin akan mengeluarkan suara yang dipercaya umat itu sebagai suara tuhan.

Menurut riwayat, patung pertama sesembahan kaum nabi musa itu bukan patung yang ada sampai sekarang hingga saat ini itu. Patung aslinya sudah dibuang ke tengah laut oleh pengikut nabi musa atas perintah nabi musa. Karena ke-ngeyel-an mereka, dibuatnya lagi patung yang sekarang itu. FYI, patung yang sekarang bentuknya udah ngga mirip banget sapi akibat dimakan waktu. Oh, ya.. patung itu terletak di tengah pegunungan berbatu yang warnanya sama persis dengan kondisi sekitarnya. Coklat muda keemasan gitu. Patungnya ngga terletak di dalam kaca, wajar aja jika bemtuk aslinya udah ngga keliatan, kan.

Nah itu dia pengalaman winter break gue, ke Sinai, Dahab, dan Sharm el-Sheikh. Semoga suka sama ceritanya dan bisa jadi referensi buat siapapun yang mau coba experience yang sama dengan gue.

Mmm, meskipun di awal tulisan ini gue cerita bahwa di winter break tahun 2020 ini gue sibuk, tapi gue sempetin buat jalan-jalan kok. Gue ke Ismailiya, sebuah kota yang juga menyimpan sejuta sejarah dan keindahan. Kisahnya bisa kalian baca di sini

Terimakasih sudah berkunjung!


Related Articles

0 comments:

Post a Comment