In Review

Rumah Buku; Kisah Takdir Buku di Tangan si Gila Buku



Bluma Lennon adalah seorang dosen berusia 45 tahun yang baru saja meninggal akibat tertabrak mobil saat sedang berjalan sambil membaca buku. Seorang teman dekatnya yang sangat mengenalnya harus menggantikannya mengajar di Jurusan Sastra Amerika Latin di Universitas Cambridge.


Beberapa hari setelah kematian Bluma, ia dikirimi sebuah paket berisi buku lusuh yang di sampul depan dan belakangnya ada kotoran berkerak, dan pinggiran-pinggiran halamannya dilapisi partikel-partikel semen yang akan meninggalkan debu halus di tangan pembacanya, atau di tempat dimana buku itu diletakkan. Buku itu diterbitkan oleh percetakan Emecé, Buenos Aires, dan dicetak pada November 1946

Tidak ada surat di dalamnya, hanya ada kalimat persembahan dari Bluma, yang ditulis dengan tinta hijau. Tulisan tangan itu diawali dengan kalimat 'buat Carlos' dan ditutup dengan tanggal 8 Juli 1996.

Rekan Bluma itu penasaran, mengapa buku itu baru dikirim dua tahun setelah tanggal itu. Kemana dulunya buku itu? Dan apa yang mesti dibaca Bluma dari buku bersemen itu?

Karena penasaran, ia mulai memecahkan teka-teki tersebut. Ia membongkar berkas-berkas Bluma untuk mencari petunjuk. Ia berencana untuk mengembalikan buku yang diterbitkan oleh  itu pada pengirimnya, dan mencari tahu siapakah Carlos yang dimaksud Bluma dalam buku itu.

Ia memulainya dengan petunjuk pertama; Monterrey. Tapi ia tidak menemukan seorang pun dalam berkas "Dokumentasi Monterrey" yang bernama Carlos. Kemudian ia mengirim e-mail ke panitia yang menggelar acara itu. Tapi balasannya tidak banyak memberi jawaban dari teka-teki itu. Lalu ia mengirim e-mail juga pada salah satu penulis Uruguay yang juga hadir pada acara itu. Penulis itu memberitahunya bahwa ada seseorang bernama Carlos Braurer yang juga menghadiri acara itu dan dilihatnya ia pergi dengan Bluma setelah acara itu selesai. Penulis itu menawarkan solusi agar ia dapat bertemu Carlos.

Beberapa hari setelah itu, ia pergi menemui Jorge Dinarli, pemilik salah satu toko buku lawas terbaik di Montevideo yang sudah lama mengenal Carlos. 

Saat berjumpa dengan Dinarli, ia malah mengenalkannya dengan seseorang yang jauh lebih mengenal Carlos, namanya Agustin Delgado. Dinarli hanya menceritakannya hal-hal tentang Carlos yang remeh temeh saja. Sesudah mendapatkan kontak Delgado, teman dekat Bluka itu kembali ke hotel dan menelpon Delgado pada malam itu juga.

Esoknya, mereka bertemu di ruang kerja Delgado yang dipenuhi dengan rak-rak besar berlapis kaca yang dijejali tumpukan buku. Delgado bercerita tentang Carlos yang juga punya banyak buku yang terhampar di seluruh sudut ruangannya. 

Delgado bercerita panjang lebar tentang Carlos. Carlos yang tidak mungkin meletakkan Shakespeare bersebelahan dengan Marlowe sebab tudingan-tudingan penjiplakan yang pedas antar kedua penulis itu, Carlos yang tidak bisa menjajarkan buku Martin Amis dengan Julian Barnes setelah keduanya bermusuhan. Carlos yang juga memperlakukan hal itu pada dua penulis lain yang bersetegang. 

Delgado juga menyebut bahwa Carlos berniat untuk menyudahi sistem indeks tematik. Baginya, kemudahan untuk menemukan buku-buku yang dicari itu satu hal, tapi menempatkannya berdekatan atau berjauhan itu soal hal lain. Carlos bersikeras bahwa metode pengelompokan buku yang ada saat ini itu kampungan. 

Tetapi Carlos tidak hanya mengkritik hal itu, ia menyiapkan solusinya, menggarap indeksnya dan mulai mempelajari matematika lanjutan. 

Namun menurut orang-orang yang berjumpa dengan Carlos saat itu, Carlos mulai menunjukkan tanda-tanda kegilaan. Menjajarkan buku sampai membentuk kontur tubuh manusia, juga membaca karya penulis Perancis abad ke-19 dengan cahaya lilin yang pada suatu hari membakar sebagian rumahnya dan merusak indeksnya. Sejak itu Carlos jadi bermuram durja. 

Dijualnya rumah itu lalu ia pindah ke Rocha. Ia membangun rumah di tepi pantai dengan buku-bukunya sebagai batu bata. Baginya, buku-buku adalah rumah yang menemaninya, memberinya perlindungan. 

Begitu cerita itu selesai, Delgado menyuruhnya pulang dan berjanji akan menemuinya lagi di esok hari, meski ia tidak yakin hal itu akan terjadi. Teman dekat Bluma itu jadi tahu darimana buku itu didapat. Kemudian ia kembali ke Cambridge, menjalani hidup seperti biasany meski rasa penasaran masih menyelimutinya. 

Hingga pada suatu hari ia pergi untuk melihat bangunan itu dengan mata kepalanya sendiri. Rumah di tepi laut itu tampak usang. Temboknya doyong disela-sela gumpalan semen. Buku-buku menempel kaku dengan tipografi yang tidak lagi terbaca. Sebagian berserakan dan sebagian lainnya tertimbun. Ia memasuki gubuk itu, mengeluarkan buku yang membuatnya penasaran; La linea de sombra. Meninggalkannya di sudut perapian. Melangkah pergi lalu kembali lagi untuk membawanya pulang. 

Sekembalinya ke Cambridge, ia mengunjungi makam Bluma. Meletakkan buku itu di depan nisannya. Rintik hujan menetesi sampulnya yang kasar. Setelah mengucapkan selamat tinggal, ia pulang. Kembali ke rumahnya.

Itu adalah penggalan dari kisah sebuah buku yang diubah takdirnya oleh pemeliknya sendiri. Novel 76 halaman dengan judul Rumah Kertas ini menyuguhkan kisah yang sangat brilian. Sebab, semua tokoh yang terlibat di dalam kisah itu adalah penggila buku semuanya. 

Meskipun saya menceritakan isi novel panjang lebar, tetap saja membaca buku aslinya akan jauh lebih menyenangkan. Banyak bagian yang dibahas begitu rinci di novel itu, yang tidak saya jelaskan dengan gamblang di sini, termasuk cerita akhir yang disampaikan nelayan.

Carlos María Domínguez, penulisnya pasti juga seorang kutu buku. Tak mungkin ia sanggup menceritakan kisah ini sedemikian indahnya tanpa tahu tentang apa yang ia tulis. Karangan-karangan penulis hebat banyak disebutkan disana, beberapa lengkap dengan deskripsinya.

Dari buku ini, saya belajar bahwa takdir sebuah buku ada di tangan pemiliknya. Dari sana juga, saya dapat merasakan kekecewaan Carlos yang kehilangan indeksnya, yang telah memupus semua ilusi untuk bisa menata perpustakaannya.

Komentar The New York Times yang disematkan di cover buku dapat saya rasakan benar adanya. Buku tipis ini bisa menghantui pembaca jauh sesudah ditutup. 

Saya jadi ingat komentar saya saat meminjam buku ini kepada teman saya. Saya bilang novelnye terlalu tipis. Dia menjawab santai: biar dibaca berkali-kali. Jadi seperti ini, rasanya  telah menamatkan novel ini; ingin membacanya lagi.

Related Articles

0 comments:

Post a Comment