In

Yang Lagi Viral Sore Ini 


Halo selamat sore, sambil nunggu buka puasa aku mau menghidangkan buat kawan-kawan sebuah tulisan sederhana, yang dikemas dengan kalimat yang ringan, mudah dibaca, dan gampang diambil kesimpulannya. Yaitu tentang “Pola Interaksi Masisir Zaman Now” yang dalam sekian menit langsung jadi trending topik di Masisir.

Pertama kali aku dapet tulisan itu dari grup angkatan yang udah aku left beberapa menit lalu. Alesan left nya sih bukan karna aku mengomentari tulisan itu. Hanya saja grupnya suka mendadak jadi grup jualan. Dan aku sedang menerapkan pola 3 bulan tidak berbelanja baju dan kawan-kawannya ala jepang gitu, bahasa alamiahnya “.....” makanya aku left aja. Oh iya satu lagi, aku fikir grupnya emang ngga ada manfaat apa-apa yang bisa kuambil dari sana atau ku kasih untuk mereka. So better i left it.

Jadi intinya di grup itu seseorang dengan nama berbahasa arab yang ngga usah disebut namanya itu mencantumkan tulisan yang dimulai dengan sebuah kalimat berbahasa arab yang artinya: “ngga usah ketemu kalo ngga ada keperluan.” Kemudian lanjutannya begini: “Perlu digaris bawahi... Tidak berkumpul kecuali ada kebutuhan dan kepentingan... Paragraf selanjutnya: Tp ada bbrp momen yg sebenernya gak harus berkumpul antara laki2 dan perempuan, contoh: bukber, terkadang bisa dibilang sering mempertemukan laki-laki dan perempuan (biasanya gt) terkadang jg nggk... tergantung momennya”. Ini saya tulis dengan gaya penulisan dia persis tanpa ada saya kurang atau tambah. Bisa dilihat di gambar berikut:
(Sorry blognya eror sepertinya saya upload gambar dr kemaren gabisa2)

Kemudian dia menukilkan sebuah gambar screenshoot berbahasa arab yang didalamnya berisi nasihat dari Syekh Muhammad Al-Arobi. Kesimpulan dari isi penyampaian Syekh itu kurang lebih begini: “Syetan mendatangi manusia lawan jenis yang berkumpul dalam satu tempat. Apalagi Azhariyy (mahasiswa Universitas Al-Azhar), merantau ke Mesir ngga ada yang ngawasin kecuali Allah. Maka dari itu janganlah bertemu lawan jenis itu kecuali kalo ada kebutuhan. Jika lebih dari itu hukumnya haram secara syariat. Saat pertemuan itu terjadi, apa yang mereka lakukan? saling pandang, saling lempar senyum, bercanda, berbicara panjang lebar. Demikianlah yang saya amati dari kebiasaan Mahasiswa asing dari negara Indonesia. Saya ngga faham, apakah hal seperti itu merupakan adat orang Indonesia? Jawablah! Ttd Syekh Muhammad Al-Arobi.”



Setelah membaca itu saya seketika bertanya Syekh Muhammad Arobi itu siapa? Apakah saya sudah terlalu jauh dari Al-Azhar sehingga saya tidak lagi mengenal Syekh-Syekh Azhar. Saya setuju bahwa bertemu tanpa ada kepentingan itu tidak boleh, tapi pertanyaannya kenapa yang dihujat Mahasiswa Indonesia saja? Mahasiswa asing lain saya amati sama saja.

Malah dari tulisan tersebut saya berfikir “jangan-jangan itu konspirasi yang dibuat oleh seorang lulusan Azhariy yang tersakiti akibat perbuatan jeleknya diketahui banyak orang kemudian dia memfitnah Mahasiswa Indonesia baru-baru ini?” atau, ah sudahlah. Dugaan saya tentang itu terlalu jauh.

Tapi pada intinya saya setuju dengan nasihat dan pesan dalam tulisan itu. Hanya saja, tidak tertera nama kontak beliau membuat saya sedikit berfikir yang nggak-nggak. Karna nilai ilmiahnya justru disitu berkurang. Ngga ada ‘taukid’ nya.

Kemudian menurut saya, hal-hal seperti itu tidak sebaiknya menjadi konsumsi publik. Apalagi dishare dalam status whatsapp, instagram, facebook (jika ada). Karena hal itu bisa dilihat oleh siapa saja, masisir atau non masisir, Azhary Indonesia atau Azhary negara lain. Dan itu justru memperburuk citra Masisir di kancah internasional. Cobalah kalian fikir, berapa persen Masisir yang berperan di Indonesia atau Dunia? Saya tahu, citra Masisir sudah bergeser, tapi tolong jangan perburuk suasana. Jika mau menyampaikan nasihat, sampaikan empat mata.

Tidakkah kalian ingat nasihat dari imam syafii yang isinya: “kalau menegur orang di depan umum itu namanya malu-maluin, menegur itu disampaikan dengan empat mata.” Saya betul-betul lupa bagaimana kalimat sebenarnya, tapi kandungannya benar, demikian.

Lagipula, toh orang-orang seperti itu apakah mempan dengan sindiran-sindiran yang anda semua gencarkan? Jika ujung-ujungnya yang digaungkan adalah “UU KPI” (undang-undang komisi peduli interaksi) yang pernah saya baca itu memang ada tapi menurut saya itu tidak usah ada. Eh, maksudnya UU itu ada dan sah menjadi UU PPMI tapi actionnya tidak ada, dan ada pihak-pihak yang akan menjadikannya benar-benar ada lagi, yah terserah kalian gimana baiknya. Saya sih mikirnya kita semua udah dewasa, paham lah sebab akibat, dosa-dosa dan karma atau segala macam bentuknya itu. Kita bukan lagi anak pesantren yang hidupnya dipenuhi beragam aturan. Bagi saya itu sudah cukup jadi norma yang perlu saya jalankan dan jaga. Maksudnya tanpa perlu dijadikan UU, saya sendiri mengamininya. Yah meskipun saya pesimis jika komisi peduli interaksi tidak akan betul-betul bisa menghandle masisir yang kian banyak jumlahnya.

Saya terkadang bersyukur menjadi bagian dari masisir, karna alhamdulillah kawan-kawan saya merupakan orang-orang yang keren keilmuannya, keren semangatnya, sangat menginspirasi saya. Buktinya dengan memposting hal itu di story whatsapp saya (tentunya sudah saya hide dari kawan-kawan saya yang aktivis di organisasi ppi, atau organisasi mahasiswa yang ada di Indonesia) empat kawan saya langsung mendiskusikan itu dengan saya.

Salah satu dari mereka menyatakan begini; Tapi dengan ini saya juga menolak adanya pihak-pihak yang menyatakan bahwa solusi daripada semua itu adalah menikah. Tidak, itu salah besar. Karna dalam hadis kan disebutkan menahan nafsu dengan puasa, jadi solusinya ya puasa. Menikah itu hanya solusi bagi mereka yang sudah mapan secara fisik, mental, dan tentunya keuangan.

Wow, ternyata kawan saya yang itu mungkin telah melihat postingan kawan saya yang lain yang menyatakan bahwa solusi dari semua itu adalah menikah.

Satu pihak yang lain bilang; Menurut saya, alangkah baiknya jika hal-hal seperti itu didiskusikan, bukan hanya jadi ocehan di media sosial saja.

Sebagian yang lain bimbang dan perlu perfikir panjang terkait menanggapi hal ini baiknya gimana.

Dan menurut saya lagi alangkah baiknya jika kita fokus untuk mendiskusikan hal-hal yang urgent dan perlu betul-betul kita diskusikan. Misalnya membahas optimalisasi sumber daya masisir agar bisa bermanfaat, berkembang, dan eksis di era disrupsi ini. Ya itu cuma opini saya saja. Jika kalian bertentangan dengan saya ya tidak masalah. Beda kepala beda pemikiran. There’s no right. There’s only right for you.

Selamat menanti berbuka puasa ߘタ

Related Articles

0 comments:

Post a Comment