In Ceritaku Lifestyle Opini

Satu Bulan Lockdown, Ngapain Aja?


Tepat sebulan sudah masa self quarantime ini berlangsung. Memang sih, selama sebulan kemarin mungkin kita semua tidak sepenuhnya berada dirumah aja. Gue aja, terpaksa beberapa kali keluar rumah buat belanja dan keperluan mendesak lainnya.

Sebenernya sih seinget gue, nih, sejak tanggal 10 Maret, gue udah mulai membatasi diri untuk tidak keluar rumah kecuali seperlunya aja. Tapi, pemerintah Mesir kan baru ngeresmiin libur sekolah, kuliah, dan aktivitas belajar lainnya akibat virus corona sejak 15 Maret. Meskipun masyarakat Mesir sudah mulai libur dari 12 Maret, itupun karena cuaca buruk.

Oh ya, ngomongin tentang corona di Mesir, jarak dari case pertama ke case selanjutnya itu menurut gue lumayan jauh, loh dibandingkan dengan yang terjadi di Indonesia. Pemerintah Mesir kan resmi ngumumin pasien pertama corona pas tanggal 14 Februari, yang konon pasien pertamanya pengusaha Miniso-nya City Stars. Tapi meskipun media ngga memberitahukan kewarganegaraan pasien nomor satu, di grup whatsapp itu beredar info imbauan untuk tidak mengunjungi city stars. Entah itu berita hoax atau valid, dah. Soalnya setelah pesan whatsapp itu viral, beberapa hari setelahnya gue pergi ke City Stars dan disana lumayan sepi. Haha... 

Meskipun setelah kasus pertama udah ditemuin di Mesir, suasana Mesir setelah itu masih baik-baik saja, gaes. Negara-negara di sekitar Mesir juga masih aman dan damai kaya ngga ada kejadian apa-apa. Nah, masa-masa tenang itu tetap berlangsung hampir selama sebulan. Yang gue rasain, sih, situasi dunia mulai oleng sejak akhir Februari pas kerajaan Saudi baru menyatakan pemberhentian pemberangkatan umroh. Ya mungkin terasa begitu lekat dalam ingatan karena gue ngalamin semua drama itu. 
Gimana deg-deg-an nya jantung pas denger kabar keamanan menuju Mekkah diperketat, selang beberapa hari kemudian pemberangkatan umroh distop, terus kawasan Masjidil Haram disterilisasi, keran-keran zam-zam ditutup, pintu masuk Haram cuma dibuka di bagian tertentu aja, terus puncaknya pas pemerintah Saudi ngumumin penutupan akses penerbangan dari dan ke Cairo-Jeddah. Otomatis gue yang harusnya masih ada di sana sekitar semingguan mau ngga mau ya terlibat dalam drama; terbang ke Kairo secepatnya atau pulang nanti-nanti saja tapi terbangnya ke Indonesia.

Ya, meskipun berbagai drama itu sudah gue lalui, izinkan gue mengabadikan semua itu lewat tulisan ini. 

Perkembangan Corona di Mesir

Kalau dibikin timeline, perkembangan corona di Mesir itu singkatnya begini:

14 Februari 2020; Pemerintah Mesir mengumumkan kasus covid-19 pertama di Mesir

15 Februari 2020; KBR Kairo membuat pernyataan tersebut dan memberi imbauan ke semua WNI di Mesir

15 Maret 2020; Pemerintah Mesir mulai meliburkan kegiatan belajar mengajar 

16 Maret 2020; Angka pengidap corona di Mesir mencapai 126 kasus dengan 2 kasus kematian, 32 negatif, dan 26 lainnya sembuh. Pemerintah Mesir mengumumkan penghentian kegiatan penerbangan di seluruh bandara Mesir mulai 19 Maret.

19 Maret 2020; Penghentian penerbangan di seluruh bandara Mesir mulai diterapkan.

24 Maret 2020: Perdana Menteri Mesir mengumumkan pemberlakuan jam malam mulai pukul 19:00 malam hingga pukul 06:00 pagi. Bagi yang melanggar akan dikenakan denda atau penjara sesuai UU Keadaan Darurat

25 Maret 2020; Pemberlakuan sistem jam malam. 

Nah dari timeline itu kesimpulannya; sejak peraturan itu dibuat hingga saat ini, jam malam masih diberlakukan, dan bandara Mesir masih menutup akses penerbangan, meskipun gue masih beberapa kali denger suara mesin pesawat lewat atas rumah gue. Ya, menurut videonya Jerome Polin kan corona di Indonesia bakal berakhir juga tuh, kita berdoa aja semoga corona lekas berlalu.

Satu bulan di Rumah, Ngapain Aja?

Satu bulan menahan diri buat ngga keluar rumah kecuali keadaan mendesak aja menurut gue ngga gampang, terutama buat anak yang sukanya keluyuran keluar rumah kaya gue. Ya, tapi di situasi kaya gini yang gue ada di otak gue cuma; ‘’Rumah sakit di Mesir kan kaya begitu. Gedungnya jelek, dokternya begitu, perawatnya juga gitu, orang ngga sakit corona saja banyak yang mati, temen-temen sesama pelajar aja banyak cerita kejadian mal praktek. Ditambah lagi sikap rasis orang Mesir jeleknya ngga karu-karuan. Kalo pelajar asing kena corona nanti ada unsur rasisme ya, kemungkinan besarnya berakhir di kuburan, dah.’’ Pikiran semacam itu sukses bikin gue memilih di rumah aja. Btw kelean mikirnya gimana gaes?

Memang blog gue isinya cuma sampah-sampah yang ada di fikiran gue, tapi di tulisan ini gue mau sharing beberapa hal seru yang sudah gue lakuin selama di rumah aja. Ini mungkin buat gue pribadi merupakan bagian dari stress management (cara ngilangin bosen) yang gue lakuin di tengah covid-19. Semoga ada beberapa hal yang bermanfaat, ya.

Ditipu Ending Itaewon Class

Di musim corona ini banyak banget orang yang ngomongin tentang film Itaewon Class ini, gaes. Drama korea 16 epidose ini itu ngebahas tentang bisnis dan merealisasikan impian. Tokoh utamanya diperankan oleh Park Seo Joon sebagai Park Saeroyi, yang bertekad untuk membalas dendam ke Jangga, sebuah perusahaan makanan nomor satu di Korea. 

Permusuhan Saeroyi dengan Jangga dimulai pada saat anak sahnya pimpinan Jangga, Jang Geun Woo ngebully teman sekelasnya. Saeroyi yang ngga tahan melihat perlakuan Jang Geun Woo, akhirnya membela si anak yang dibully itu. Pertengkaran ringan itu diakhiri dengan pukulan dari Saeroyi ke wajah Geun Woo. Karena Jangga punya power yang besar, akhirnya Saeroyi dikeluarkan deh dari sekolah itu. Namun, Jang Geun Woo yang dendam kepada Park Saeroyi membalasnya dengan menabrak ayah Saeroyi hingga mati. Saeroyi yang merasa sangat terpukul akhirnya membalas perlakuan Geun Woo dengan memukulnya hingga babak belur. Tentu dengan kekuasaan Jangga lagi, akhirnya Saeroyi dipidana 3 tahun. 

Selama di penjara, Saeroyi mempelajari buku autobiografi Jang Dae Hee, ayah Jang Geun Woo yang merupakan pimpinan Jangga. Akhirnya, sejak itu Saeroyi berniat untuk berbisnis agar dapat menyaingi Jangga. Nah, perjalanan Saeroyi dalam membangun karirnya pasca keluar dari penjara tentu tidak mudah. Namun Saeroyi dapat mewujudkannya berkat bantuan Jo Yi Seo, influencer muda yang menawarkan diri sebagai manajer di kedainya. 

Namanya juga anak muda, ya, perjalanan hidupnya pasti ngga lepas dari kisah cinta. Di drama korea Itaewon Class ini juga begitu gaes; dibumbui cerita asmara. Tapi menurut gue, kisah asmaranya ini nyebelin banget. Bikin kalian ketipu sama ending ceritanya. Mungkin Saeroyi kalo beneran ada juga bingung, kali, mau milih Oh Soo Ah kah atau pilih Jo Yi Seo kah. 

Selain bakal merasa ditipu sama kisah cinta Saeroyi, kalian juga bakalan ditipu sama kehancuran perusahaan Jangga. Kalian pasti penasaran, kan, bagaimana kehancuran perusahaan Jangga. Sama, gue juga penasaran sejak Saeroyi ber-azzam buat bener bikin Jangga hancur. 

Oh, ya.. latar endingnya drakor ini berbau kekerasan. Mirip sama awal ceritanya yang juga dibumbui perkelahian. Tapi dimana-mana, karena gue ngga suka film action, pasti di bagian perkelahian selalu gue skip. 

Tapi kalo boleh jujur nih sebenernya gue awal-awal nonton itaewon class itu ngga menarik menurut gue, ngga seru. Dari episode 1 sampe episode 3 gue rasa ngebosenin banget deh, ngga kaya drama korea yang biasa gue tonton; yang awalnya pasti seru dan bikin penasaran.

Meskipun begitu, gue tetep ngerekomendasiin film ini buat teman-teman yang passion sama dunia kuliner. Karena, disana lo bakal dapet pelajaran tentang bagaimana membuka bisnis kuliner, bagaimana problem solving dari permasalahan karyawan, pentingnya design interior, perlunya belajar autodidak, cara mendapatkan investasi, dan pastinya juga pelajaran tentang; punya mimpi besar artinya ada tantangan yang besar juga.

Dua hal yang bakal kalian inget setelah nonton film ini adalah: ‘’jumlah waktu setiap orang itu sama, yang bikin beda cuma tentang gimana cara memakainya’’. Yang kedua; ‘’miskin, ngga berpendidikan tinggi, punya catatan kriminal bukan berarti ngga punya kesempatan’’.

Well, buat teman-teman yang ngga suka drama korea, masa-masa social distancing ini harus jadi langkah awal kalian dalam ta’aruf sama drakor. Percaya, deh, drama Korea isinya ngga cuma tentang boyband, kisah cinta mellow drama, atau cerita alay ngga bermakna. Bahkan drama Korea selain ini juga banyak yang bikin kita melek media, bisnis, hukum, politik, dan lainnya. 

Ini drama korea paket lengkap; tentang prinsip, impian, investasi, business strategy, dan idealis tapi harus realistis, semua ada di sini.

Jadi gimana, tertarik, nonton drama korea (ini)?

Kecanduan Podcast Subjective

Belakangan, pas podcast mulai eksis gue beberapa kali dengerin podcast. Tapi pas stay at home ini intensitasnya jadi lebih sering. Dan salah satu yang suka gue denger itu adalah podcast subjective, soalnya gampang diakses. Ada di soundcloud dan ngga butuh premium ala-ala, gue sudah bisa denger dan pilih yang gue mau. Cuma modal kuota doang, gue bisa denger cuap-cuapnya Iqbal Hariadi saat dia ngomong sendirian, atau pas dia lagi sharing sama orang lain. Tema yang dibahas sama bang Iqbal itu menurut gue anak muda banget, jadi gue tertarik. Ngomongin quarter life crysis, motivator gary vee, rekomendasi website buat self learning, ngomongin demo (perlukah ambil bagian dalam demonstrasi), kenapa kuliah saja ga pernah cukup, dan banyak hal menarik lainnya.

Salah satu dari materi podcast subjective yang gue suka itu tentang kenapa kuliah aja belum cukup. Nah, ini rangkumannya;
Di episode ini, Iqbal Hariadi sharing bareng Wendy Pratama, founder Lingkaran. Lingkaran itu semacam creative education platform, yang isinya adalah kelas pengembangan diri. Jadi disana dia bikin aneka workshop gitu loh, gaes. Tujuannya biar upgrade skill buat ningkatin performa karir.

Kalo kalian denger penjelasan dari bang Wendy sih, menurut gue bisa bikin kalian sadar, ternyata memang bener, ada gap antara apa yang kita pelajari di kampus dan apa yang dibutuhin di dunia nyata, dunia kerja, atau industri. Simpelnya gini; ‘’Ketika lo lulus, lo belum tentu bisa langsung applikasiin apa yang lo pelajarin itu.’’

Misalnya kaya bang Wendy yang kuliahnya jurusan Arsitektur. Ketika lulus ya dapetnya cuma pola pikir sebagai seorang arsitek. Karena metode belajar di kampusnya itu konseptual, bukan practical. Kurikulumnya menurut dia, mendesain dia sebagai expert yang bisa jadi pembicara, mendebat, tapi sulit untuk merealisasikannya. 

Trus dia ngasih contoh pas dia kuliah ngga diajarin bikin rumah dengan budget sekian, begitu. Yang mana pas dia lulus kuliah disuruh ibunya mbangun rumah, dia bingung. Cara nentuin dananya bagaimana, cara dapet pekerjanya gimana, langkah awal yang perlu dia lakuin bagaimana, kan modal jago ngedesain saja ngga cukup buat bikin gambar itu jadi rumah beneran. Padahal, kampusnya bang Wendy ini kampus ternama di Indonesia, loh. Yang mana, gambaran lo kalo keterima kuliah disana pasti keren, gitu.

Bang Wendy juga ngeluh kalo di kelasnya ngga ada mata kuliah presentasi. Padahal beberapa jurusan membutuhkan presentasi saat di-apply dalam lingkungan kerja. Dia kan ngga tahu gimana cara me-manage orang, bagaimana running the business-nya.  Ada beberapa mata kuliah yang sebenarnya dibutuhkan malah ngga ada di pelajarannya. Ada yang ngga dibutuhkan malah ada mata kuliahnya. Supporting kurikulumnya ngga ada. 

Misal pas lulus kadang saja kita harus belajar lagi bagaimana tulis email resmi, bikin laporan di excel pakai formula apa, desain grafis, ujung-ujungnya harus self learning lagi. Sejauh mana orang ingin berkembang, sejauh itu pula ia harus usaha sendiri.

Selain itu, mereka juga ngomongin soal kurikulum. ‘’Apakah kurikulum akan cepat mengikuti perkembangan industry?’’ Menurut bang Wendy, ini peran dari informal education. Katanya, formal education dan informal education itu keduanya harus bersinergi. Di kampus kamu akan belajar tentang pola fikir profesi di jurusanmu, tapi dalam praktek kamu harus dibantu institusi lain di luar kampus, yaitu non formal education. Kemudian orangtua, lingkup sosial juga berperan untuk membekali lo untuk jadi diri lo yang sekarang. 

Ya, jadi intinya: sekolah itu bukan solusi satu-satunya. Kalau mau ngedesain pendidikan, harus ngedesain semuanya include sistem individu tempat dia tumbuh. Keluarga, institusi pendidikan, lingkungan, lembaga pendukung, dan semua itu adalah elemen yang holistik. Which is main juga masuk part of learning. Potensi, kebutuhan, itu jadi dasar utama yang harus dipertimbangkan sebelum adanya kewajiban belajar 9 tahun.

Bang Wendy juga pesen ke anak kuliah sebelum lulus; apa yang harus dilakukan? Yang pasti jangan diem saja, main, cari network, cobain hal-hal yang belum dicobain. Get your investment through teaching. Sekarang sudah banyak community movement, coba hal itu. Soft skill dan hard skill itu dua hal yang ngga bisa dipisahin. Butuh awareness, informasi, dan eductation dalam mengetahui skill kita dimana.

Baca banyak buku, baca banyak website. Mahasiswa belum saat nya untuk banyak memilih, tapi untuk memperbanyak pilihan. Orang yang rugi itu orang yang ngga punya pilihan, jangan sampe lu ngga punya pilihan karena lu tidak berusaha memperbanyak pilihan lo. Keberanian mengeksplor itu privilege, ga semua orang punya. Hal-hal pengembangan diri yang lu lakuin sekarang, pasti kedepannya akan berbuah. Kenalin diri lo lagi. tujuan hidup lu bagaimana, mau merealisasikannya bagaimana, dengan cara apa.

Harus bangga sama diri lo sendiri, Jangan bandingin diri lo dengan yang lain, jangan menilai social pressure seorang. Yang bisa dilakukan ya eksplor apapun demi diri lo sendiri, sebab rezeki, takdir, itu ngga sama. Kita ngga tahu, hasil eksplor lo yang mana yang akan menentukan sukses versi lo sendiri. Orang bisa sukses di masa ini, lo ngga perlu sedih karena belum ada di posisi dia saat ini, karena definisi sukses itu beda-beda. 

Gimana? Keren, kan obrolan mereka? Kalau mau denger versi aslinya, ada kok di soundcloud. Gue jamin nih, kalian bakal kecanduan buat dengerin podcast subjective.

Belajar Ekonomi Lewat Podcastnya Asumsi

Nah ini masih anget banget, gaes. Beberapa hari lalu, asumsi baru launching podcast terbarunya yang berjudul ‘’Ekonomi di Era Pandemi: Kita Musti Gimana?’’. 

Pembicaranya pak Chatib Basri, mantan Menteri Keuangan pas di zaman pak SBY. Meskipun gue pribadi ngga paham banget tentang dunia perekonomian, tapi gue tertarik buat paham banyak tentang ekonomi. Karena Allah kan juga berfirman; ‘’wa la tansa nasibaka minad dunya’’, jangan lupa hidup di dunia juga butuh modal. 

Di podcast episode ini, ada banyak hal yang bisa lo dapet disana, diantaranya tentang kebijakan pemerintah dalam menangani masalah ekonomi di era pandemi, tentang inflasi, tentang utang negara, kenapa mata uang amerika masih jadi mata uang global, bisakah mata uang China jadi kaya Amerika, pertumbuhan ekonomi, bank dunia, juga tentang industri apa saja yang akan muncul akibat dari covid-19 ini. 

Berhubung gue mencatat detail pembicaraan itu, gue akan bagi poin-poinnya ke kalian. Siapa tahu jadi ladang pahala buat gue;

Dalam berpolitik, sebenarnya tidak ada hitam putih. Menangani masalah ekonomi di era pandemi ini tentang policy choices, yang keputusannya ada di tengah-tengah. Kalau dilakukan lockdown atau PSBB, konsekuensinya adalah ekonomi tidak berjalan karena pasarnya tidak eksis. Jadi, implikasi dari tidak bertemunya penjual dan pembeli adalah imbas pada perekonomian negara. 

Jika pemerintah bisa concern dengan masalah kesehatan dengan mengadakan lockdown, konsekuensinya adalah; negara harus memberikan pesangon. Jika masyarakat dilarang keluar rumah tapi tidak diberi gaji, lockdown nya akan chaos seperti yang terjadi di negara India. Karena dengan penerapan lockdown, mereka tidak bekerja. Artinya tidak ada pemasukan. Sedangkan, orang hidup pasti membutuhkan makanan. Masyarakat miskin sudah ada pemasukan yang bisa didapatkan dari pemerintah dengan memiliki kartu miskin. Adapun masyarkat kelas menengah ke bawah, itu tidak ada. 

Physical Policy atau government policy
harus ada sequence nya. Yang pertama
adalah fokus pada kesehatan. Containment
the virus should be the first priority.

Q: Dalam grafik pencegahan penyebaran corona, baru akan efektif 80% jika orang mematuhi social distancing yang diterapkan. Dalam konteks di Indonesia, hal ini mungkin dicapai ngga?

A: Menurut saya, ini ngga banyak opsinya dan harus dilakukan. Makanya saya menyarankan social protection dengan BLT, atau dengan makanan. Konsepnya; berada di rumah dan tetap digaji. Saya mungkin dianggap konservatif, tetapi dalam situasi ini kita harus berpikir out of the box. Mana yang bisa memuaskan banyak pihak tapi manage-able.

Q: pandemi seperti ini kan pernah kejadian juga 100 tahun lalu. Great Influenza pernah membunuh sekitar 100 juta orang di dunia. Jika saat itu ekonomi dunia merosot hingga 8%, apakah dampaknya di tahun ini bisa lebih besar mengingat dunia saat ini lebih connected. Meskipun zaman dulu angka kematian dalam jumlah besar berpengaruh pada hilangnya angka tenaga kerja karna tenaga mesin belum terlalu banyak seperti sekarang. Bagaimana dampak ekonominya menurut bapak?

A: Secara logika, interconnectednya dunia saat ini tentu akan menghasilkan konsekuensi global yang jauh lebih besar. Tapi situasi kesehatan saat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan 1918. Kalau kita baca sejarah, virus itu kan mulainya awal 1918 dan berakhir di akhir 1920. Mematikan 500 ribu jiwa itu angka yang besar meskipun berdampak 6-8% pada kemerosotan ekonomi. Kalau di masa sekarang, mudah-mudahan korbannya bisa jauh lebih kecil karna fasilitas kesehatannya lebih baik, meskipun mungkin punya dampak ekonomi yang lebih besar. 

Q: Lantas bagaimana dengan ketahanan pangan Indonesia mengingat kondisi saat ini pasti negara lain enggan menjual dengan harga murah karena menjaga ketahanan pangan di negerinya. Sedangkan komoditas pangan kita masih banyak yang bergantung pada impor. Bagaimana?

A: Pada akhirnya, orang lebih memilih harga mahal daripada ngga ada, hal ini dijelaskan dengan situasi saat orang-orang bersedia beli masker dan hand sanitizer dengan harga mahal. Mungkin di dalam produk pertanian kita ngga cukup kompetitif, harganya lebih murah kalau impor. Iya, itu benar. Namun, dalam kondisi dimana choice-nya ngga banyak, substitusi import bisa punya ruang. Sebab, makanan ini kan bukan barang yang saat kita tanam langsung dapat kita petik hasilnya. Ini adalah fenomena yang bukan imediate. Dalam kondisi sosial distancing, bagaimana mau produksi jika aktivitas ekonominya saja dilarang. Produsen dan konsumen dilarang bertemu. Jadi dalam jangka pendek, yang perlu dilakukan adalah kesiapan dari segi stok makanan. Kalau bicara dalam jangka menengah panjang yang perlu dilakukan adalah substitusi.

Q: Minggu lalu sudah ada perpu stabilitas ekonomi, 145 Triliun untuk penanggulangan corona. Diantaranya ada yang buat kesehatan, bantuan sosial, insentif pajak, dan pemulihan ekonomi. Are we doing enough?

A: kalau kita bandingkan skalanya dengan amerika tentu kita kalah. Tapi kita relatif lebih besar dibandingkan Italia dan Spanyol. Karena Italia adalah negara dengan ruang physical yang tidak banyak. Sebetulnya kalau kita mau buzz lebih jauh, pertanyaannya; "financing". Kalau kita mau tingkatkan defisitnya bisa aja, tapi sumber biayanya dari mana? Dalam konteks situasi seperti ini tidak gampang. 405 triliun itu tidak sebesar amerika, singapore, Australua, tapi itu relatively lumayan untuk mengatasi isu-isu fisik. Kenapa? Karena kesehatan itu jadi fokusnya. Penangan covid harus jadi nomor satu. Jadi yang dilakukan pemerintah dengan fokus pada kesehatan itu benar. Kita musti appreciate. Kemudian harus ada social protection. Dikasih BLT, PKH. Sebenarnya kalau uangnya ada, saya purpose begini: kelompok miskin sudah ada social protectionnya dengan BlT PKH. Tapi yang menengah kebawah? Ngga ada perlindungan sosialnya. Lantas skemanya bagaimana? Makanya saya mengusulkan universal basic income. Kasih saja 40% ke bawah. Tentu ini persoalannya adalah budget, cukup ngga? Karena kalau sesua targeting, bukan yang paling miskin yang dapat. Tapi mungkin yang dapat masih masuk kategori miskin. 

Misalnya disuruh stay at home dan BLT nya fokus kepada the poorest seperti yang terjadi selama ini, mereka kan sudah ada PKH dan semacamnya. sedangkan kelompok menengah memang tidak bisa dikategorikan miskin by definition, tidak ada PKH buat mereka. Padahal mereka tetap harus dilindungi. Maka saya bilang yang bagus adalah: diadakan UBI (Universal basic Income). Tapi masalahnya, datanya susah didapatkan.

 
Menemukan Passion dan Mengembangkan Hobi

Kalo kata Silma, di rumah saja bikin kita tahu kecenderungan kita dimana, hobi kita apa. Kita jadi bisa lebih mengenal diri sendiri, banyak waktu buat me-time nya, disamping itu juga ngasih bumi ruang bernafas. Gue setuju sih dengan itu. Selama di rumah saja gue membunuh rasa bosan dengan menyalurkan hobi. Dan kebetulan hobi gue itu menghasilkan karya yang bisa diabadikan di perut atau di kertas; masak- menggambar. Haha..

Gue yang sejak lama banget ngga pernah bikin donat saja jadi bikin donat lagi. Terus gue yang suka makan mpe-mpe ini jadi menemukan metode yang enak dalam membuat mpe-mpe yang ada isi telurnya. Bahkan, buku gambar dan seperangkat pensilnya yang sudah berdebu karna berbulan-bulan ngga dipegang jadi gue pake juga buat menggambar. Hasilnya; gue berhasil membuat gambar aneka virus yang imut dan lucu.

Galau Gara-gara Baca Buku Garis Waktu-nya Bung

Di twitter belakangan juga lagi rame masalah buku bajakan yang beredar dalam bentuk pdf, dan salah satu korbannya adalah Bung; Fiersa Besari. Dan status whatsapp berisi buku pdf garis waktu ini juga gue temuin sliweran dimana-mana.

Sejujurnya gue ngga setuju hal itu karna mengandung unsur plagarisme. Ya tapi gimana, gue juga males negor orang-orang yang ngelakuin itu soalnya gue ngga pinter berdebat.

Gue sendiri sudah tahu buku ini sejak lama, ya. Dan makin tertarik baca setelah buku-bukunya Bung dibahas sama mba Fenty di kanal youtube-nya Buka Buku Narasi.tv. Tapi gue baru sempet baca di musim corona aja, nih. Gue setuju dengan omongannya mba Fenty disana; patah hati saja bisa jadi ladang rezeki, ya. Hihi..

Garis waktu ini bukunya ringan dari segi ketebalan, halaman, berat buku, pembahasan, dan gaya bahasa. Meskipun diungkapinnya pake sastra, tapi ngga butuh meres otak, lah, kaya lagi baca puisinya Chairul Anwar. 

Gue jadi inget sesuatu dari diktat kuliah gue; globalisasi tidak hanya berpengaruh pada teknologi dan gaya hidup saja, tapi kepada sastra juga. Contohnya kalau di syiir arab orang-orang jaman dulu membuat aturan syiir, kalau satu baitnya panjang cocoknya dipakai untuk menggambarkan kesedihan yang mendalam, kalau syiirnya ngga sesuai aturan dianggap ngga bagus. Tapi lambat laun muncul juga syiir dengan nada bebas yang bener-bener menyalahi aturan syiirnya orang dulu. Di bahasa Indonesia juga sama, orang dulu suka puisinya Chairul Anwar misalnya meskipun dibutuhkan penafsiran dengan seksama yang butuh waktu lama. Remaja masa kini sukanya sajaknya Rintik Sedu yang langsung to the point dan bener-bener pakai gaya bahasa yang ringan.

Kembali ke Garis Waktu-nya Bung Fiersa, overall sih gue suka sama isi bukunya, tapi ada beberapa bagian yang missing aja menurut gue. Contohnya di bagian yang mencintai ke tiba-tiba pacaran, begitu. Transisinya kaya kurang pas saja menurut gue. Trus juga di beberapa bagian di pertengahan menjelang akhir tiba-tiba membahas orang tua, padahal di awal ngga ada pembahasan itu sama sekali. Ya tapi mungkin komentar gue juga bisa dipatahkan sama banyak orang, karna itu penerbit buktinya nerima-nerima aja bukunya Bung dengan bentuknya yang kek gitu.

Beberapa kalimat uwu yang gue inget, di buku itu;

Menyayangimu sangatlah mudah, aku bisa melakukannya berulang kali tanpa pernah merasa bosan. Yang sulit itu cara menunjukkannya.

Menaruh hati di atas ketidakpastian sikap sama saja dengan menaruh tangan seseorang yang sama sekali tidak ingin menggenggam.

Buat pemuja romantisme kaya gue, buku ini sukses bikin gue galau berkali-kali pas ngebaca kalimat-demi kalimatnya. Ngingetin gue ama kisah cinta gue yang pedih. Hiks hiks....

Nah temen-temen yang mau baca buku itu, alangkah baiknya pinjem aja ya dan jangan ikut nyebarin pdf nya. Inget: itu buku bajakan!!!

Balikan Lagi Sama Duolingo

Kalian tahu, kan applikasi Duolingo? Intinya applikasi buat belajar bahasa asing, dah. Gue sudah 3 tahunan pakai applikasi itu buat belajar bahasa. Awalnya gue pakai buat belajar bahasa Turki, kemudian karna bisa tambah bahasa ya gue tambahin aja bahasa inggris buat murojaah, bahasa arab juga, terus karena belakangan suka nonton film korea jadi gue tambahin bahasa korea, terus gara-gara mupeng pengen kuliah di Sorbone Univ jadinya gue tambahin bahasa Perancis juga. Loh, jadi multilangual gini, ehe.
Nah, kadang semangat belajar kan naik turun, jadi pakai applikasi duolingo-nya juga naik turun. Pas lagi lengket-lengketnya bisa intens banget, seharian pagi siang sore malem main terus. Tapi kalo lagi loyo ya kaya puasa daud saja, sehari main sehari engga. Dan kalo sudah bosen ya gue tinggalin sampe berbulan-bulan ngga main terus duo ngirim surat patah hati. Dan si corona ini bikin gue balikan lagi sama duolingo.

Buat teman-teman yang suka belajar bahasa, applikasi ini bagus banget buat jadi basic kalian dalam mempelajari bahasa yang kalian inginkan. Kalau sudah kelar course duolingo dan masih ngerasa kurang ya selebihnya belajar lagi aja lewat youtube, browsing di internet. Dan kalau mau expert ya ambil course-nya dan dapetin sertifikatnya, deh. 

Jatuh Cinta Sama Lagu dan Koreografinya Film Bebas

Nah, film bebas ini masuk ke jajaran film yang gue suka, yang gue tonton di tengah pandemi. Film ini bakal bikin kalian flashback sama masa-masa SMP-SMA. Auto inget dah tuh sama temen-temen deket jaman dulu sekaligus kenakalan apa yang pernah kalian lakuin di masa itu.

Ceritanya tentang seorang gadis kalem dari kampung yang jadi anggota sebuah genk yang namanya Bebas. Awalnya memang salah satu dari anggota genk bebas benci banget ama si cewek itu. Tapi lama-lama ya jadi akrab dan nerima dia. Namun, satu kelakuan mereka mengakibatkan mereka semua terpaksa keluar dari sekolah itu dan pisah; ngga bareng-bareng lagi. Sekitar 20 tahun setelah perpisahan itu mereka baru dipertemukan lagi. Jadilah mereka flashback dan reuni.

Katanya, film Bebas ini merupakan versi Indonesia dari film korea berjudul Sunny. Meskipun gue belum nonton film sunny nya, gue tetep suka sama film Bebas. Bagus dari segi visualisasinya, lagunya, ceritanya. Ah, pokonya aku suka.

Meskipun lagu bebas udah legend dari dulunya, di film ini lagu bebas di aransemen dengan versi lebih segar. Dijamin, bisa bikin kalian auto berlenggang ngikutin iramanya. Haha..

Ta’aruf Sama Applikasi Binar Akademi

Binar Academy adalah sebuah platform digital yang didirikan oleh Alamanda Shantika. Mereka, meluncurkan sebuah applikasi buat belajar coding yang bisa diunduh secara gratis di google play dan appstore. Applikasinya bagus, desainnya menarik, warnanya menyegarkan, dan pastinya bikin kalian belajar tentang dunia digital lebih dalam. Contohnya mobile application atau app yang mulai ada di tahun 2008, saat Apple merilis App Store di bulan Juli. Inisiatif Apple ini yang membuat Iphone lebih berkelas di masanya. Hanya dalam seminggu dirilis, ada 10 juta download untuk lebih dari 800 applikasi yang tersedia di App Store. Melihat kesuksesan besar yang diraup Apple, mulai bermunculan lah banyak kompetitor. Diantaranya; android market (sekarang; google play store), blackberry world, dan windows store. Karena persaingan bisnis, banyak kompetitor berguguran. Android Market juga terpaksa berganti nama ke Google Play Store biar bisa nyaingin Apple. Dengan kolaborasi antar disiplin ilmu, mobile application sekarang menjadi hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita, deh. 

Nah, informasi tentang dunia digital ini bakal kalian pelajarin di applikasi Binar Academy itu. Buat gue yang suka desian sih tertarik juga untuk belajar coding. Soalnya kan di blog juga ada code yang rumit, yang padahal kalau gue paham, bisa bikin tampilan blog gue jadi lebih berkelas. Selain itu, di dunia travel juga coding dipake buat cari tiket pesawat di applikasi punya agen travel. Gue yang bermimpi suatu saat bisa punya travel yang lebih kece dari traveloka ya tentu tertarik buat belajar coding. 

Itu dia hal-hal yang gue lakuin dan yang bisa gue sharing ke kalian selama satu bulan karantina. Harapannya sih semoga kedepannya lebih banyak hal manfaat yang bisa gue lakuin meskipun cuma di rumah saja. kan sekarang memasuki bulan ke dua stay at home, semoga gue tetap sehat wal afiyat biar bisa sharing ngapain saja part 2 ya. Hihi.. Semoga corona cepat hilang dari muka bumi. Aku ngga mau cerita dirumah saja ini punya banyak part, loh. Aku butuh liburaaaaan!!!!

Related Articles

0 comments:

Post a Comment