Buku ini pernah booming di Kairo kira-kira dua tahun lalu. Entah booming di kalangan mahasiswa seperti kita saja atau juga di kalangan orang-orang non akademis juga, yang terpukau dengan isinya.
Bahkan saat buku ini sedang naik daun, saya beberapa kali menghadiri bedah buku berjudul Sayyiduna ini, bahkan mendapatkan tanda tangan penulisnya juga, yang merupakan senior kami di Al-Azhar.
Sayyiduna dalam bahasa Indonesia berarti Sang Maha Guru. Novel ini bercerita tentang aliran-aliran sesat yang berkembang di kalangan masyarakat islam, khususnya penduduk Mesir itu sendiri.
Tokoh-tokoh di dalamnya adalah beberapa; Robi' as-Sufi, Abdussalam ad-Da'isyi, Haisam al-Librali, Hazem al-'ilmani, Huzaifah as-Sufla. Mereka tinggal bersama dalam satu flat (apartemen). Semuanya sama-sama beragama islam, tetapi memiliki pemahaman islam yang berbeda. Mereka adalah orang-orang yang suka berdebat.
Di buku ini, masing-masing dari mereka mempresentasikan isi kepalanya. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa buku ini berisi tentang perdebatan sengit diantara mereka, yang saling mempertahankan argumennya masing-masing.
Dalam bincang buku hari ini saya hanya akan menceritakan satu chapter saja, karena membaca satu chapter saja sudah membuat saya pening. Hehe
....
Sore itu, Robi' as'Sufi merasa lapar, kemudian ia pergi ke dapur. Dilihatnya ayam bakar, kue fatir rasa susu, dan seteko madu murni di dalam tudung saji di meja makan. Ia mengambil seperempat potong ayam dan roti fatir itu ke dalam microwave, lalu mencuci piring. Saat ayam dan roti itu telah dipanaskan, dibawanya ke ruang tamu dan ia panggil seluruh penghuni rumahnya.
Seketika seisi rumah menghampirinya, kecuali Abdussalam. Ia berteriak dari dalam kamarnya agar teman-temannya memperhatika apa ya g akan ia katakan dan mengamininya. "Baiatlah Abu Bakar al-Baghdadi, kalo udah, baru gue anggep kita bersodara."
Haisam si penganut pemahaman liberal menolaknya. "Terserah lu deh, tapi jujur aja gue ga mau ngebaiat Abu Bakar al-Baghdadi. Udah, fokus aja sama urusan belajar lu. Ngga pantes tau, elu kuliah di al-Azhar tapi ngomongnya kaya begitu."
Huzaifah hanya senyam senyum. Sebenarnya Huzaifah ini orangnya plin plan dalam urusan akidah. Antara mau mengimani akidahnya Khomsah yang sangat bertolak belakang dengan Abdussalam, atau mau mengikuti alirannya Abdussalam. Jadinya, ia mengikuti khomsah secara terang-terangan, tapi dalam hati mengikuti Abdussalam.
Sittah yang duduk di sofa menengahi. "Udah, udah, mending kita makan aja, sebelom dingin. Bismillahirrohmanirrohim."
"Ga boleh gitu, lu. Salah, lu. Ngga boleh bilang Bismillahirrohmanirrohim sebelum makan. Soalnya Rosulullah bilangnya: 'Bismillah'. Hal-hal yang ngga dilakuin sama Nabi, tapi elu lakuin itu kan Bid'ah. Bid'ah itu sesat, masuk neraka, lu!," Huzaifah mendebatnya.
Hazem berbisik di telinga Haisam: "Sebenernya di rumah ini tuh ngga ada satupun yang sama pemikirannya sama isi kepala gue. Coba bayangin kalo mereka tau, kalo kita nongkrong di cafe-cafe Downtown, mereka bakal ngapain kita, ya?"
Haisam menjawab: "udah pasti kita bakalan dihukum."
"Eh Huzaifah! Omongan lo itu aneh banget, sih, gue baru denger itu pertama kali. Seumur-umur itu kita kalo mau makan ya baca Bismillahirrohmanirrohim," kata Robi'.
Huzaifah membalas: "Banyak banget orang-orang yang terjerumus dalam bid'ah, tugas gue ya ngelurusin pandangan mereka. Ini dia manhaj gue, manhaj salafi. Gue memahami al-Quran dan hadis sama persis kaya yg dilakuin orang-orang islam di zaman dulu."
Yunus ikutan nimbrung: "Eh, Huzaifah... tobat, lu! Elu itu ngomongin hal-hal yang sebenernya elu sendiri engga pahami itu dengan baik. Lu ngeracunin kite dengan pemahaman yang sesat. Please, deh, buka hati lu luas-luas, biar gue bisa jelasin ke elu pemahaman yang benar itu kaya gimana," katanya.
Huzaifah tidak mau kalah. "Gue sebenernya setuju aja sama argumen lu, asalkan ada dalil al-Quran, Hadis, dan pendapat ulama salafussolih."
Yunus kembali menjawab: "Gini deh, tadi kan lo udah jelasin 3 poin, tiap poin bakal gue jelasin satu-satu. Gue bakal sebutin semua argumen lu dulu, kemudian gue sebutin argumen gue satu-satu."
Yunus memaparkan argumennya panjang lebar, sampai 5 halaman muka novel.
Setelah penjelasan Yunus yang panjang lebar sampai 5 halaman itu, Huzaifah masih saja mengelak: "Tapi saya ngga mungkin mengingkari pemahaman yang bertentangan dengan al-Quran dan hadis."
Yunus mendebatnya lagi panjang lebar. Yang intinya adalalah: ulamanya orang Salafi hanya belajar pada orang-orang yang sepemahaman dengannya, padahal jelas-jelas pemahaman mereka salah besar. Mereka berguru pada Ibnu Taimiyah yang jelas-jelas bukan merupakan orang yang hidup di masa-masa yang disebutkan rosulullah tentang hadis 'Sebaik-baik manusia adalah yang hidup sezaman dengan saya, kemudian zaman sesudahnya (tabi'in), dan sesudahnya lagi (tabiut tabi'in).'
Haisam dan Hazem senang dengan penjelasan Yunus yang masuk akal, yang berhasil membuat Huzaifah mati kutu. Sampai-sampai Robi' bertakbir: "Allohu Akbar! Terimakasih pemaparannya Syekh Yunus. Allah balas pahala insya allah."
Musab nimbrung: "Eh, Yunus! Lu tuh belajar ginian dari mana, sih?"
"Dari Sang Maha Guru yang ngga bisa dilawan." Jawab Yunus.
Musab bertanya lagi: "Namanya siapa?"
"Nanti kalian juga tau, siapa yang gue maksud dengan Sang Maha Guru." Jawab Yunus dengan mantap.