In

Lepas Penat dengan Es Krim Taiyaki Ala Street Food Jepang, Yuk!


 

Lelah dengan aktifitas kampus di tengah panasnya Kairo? Segarkan dengan lezatnya es krim dengan taiyaki ala Jepang, yuk!

Berlokasi di sebuah rest area di Tagamo Awwal, Kairo, kawasan ini nampaknya memang didesain sebagai ‘oase’untuk para pencari suaka dari kepadatan aktivitas sehari-hari.

Sesuai  dengan namanya, Taiyaki Egypt merupakan kafe outdoor yang menjual es krim dengan cone waffle ikan ala street food Jepang yang disebut taiyaki. Layaknya taiyaki pada umumnya, waffle ikan ini juga berisi selai dengan aneka rasa, seperti;  pistachio, lotus, custard, kinder bueno,  nutella, dan raspberry.

Didesain dengan sentuhan kayu modern, kafe minimalis ini dilengkapi dengan kursi-kursi bar dari kayu.  Beberapa pasang meja dan kursi juga memenuhi halaman depan kafe.

Taiyaki Egypt menyediakan menu es krim dengan rasa vanilla, cokelat, matcha, coklat matcha, coklat vanilla, dan matcha vanilla. Es krimnya berbentuk monas dengan tekstur yang lembut dan mudah meleleh, yang artinya es krim ini tidak mengandung bahan berbahaya.

Untuk membuat tampilan es krim semakin menarik, pengunjung bisa menambahkan aneka topping dengan biaya tambahan 10 Pound Egypt per-topping.

Selain es krim, Taiyaki Egypt juga punya menu lain yaitu milk shake dan smoothie dengan aneka rasa, serta dorayaki mini.

Uniknya, nuansa di kafe ala Jepang ini tampak sangat meriah di malam hari. Lampu hiasnya memancarkan warna-warni yang semakin menghidupkan suasana. Wah, cozy banget deh!

Untuk menuju kafe ini, cukup naik bus jurusan Tagamo Awwal  dari Universitas Al-Azhar Kairo. Ongkosnya cuma 5 Pound Egypt atau sekitar lima ribu rupiah. Ekonomis dan cocok banget deh, dengan bujet mahasiswa!

 

Source: Google maps Taiyaki Egypt



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Muslimah yang Diperdebatkan; Sebuah Pengantar Memahami Isu Perempuan

Suatu hari, saya pernah membagikan kiriman instagram Rumah kitaB yang membahas tentang pernikahan anak. Beberapa saat kemudian, seorang teman saya mengomentari hal tersebut.

Katanya: "Li, kamu feminis ya?".

Saya menjawab: "Terlepas dari feminisnya saya atau tidak, sepertinya anda tidak paham isu pernikahan anak. Para orang tua menikahkan anak perempuannya dengan dalih mengentaskan kemiskinan, tanpa mempertimbangkan kesiapan mentalnya yang rentan terhadap kasus KDRT. Belum lagi terjadinya kehamilan dini berdampak pada gangguan kesehatan reproduksi dan beresiko kematian. Lalu kehadiran anak tanpa perencanaan finansial justru menjadi beban baru. Anda belum tahu semua itu sudah menghakimi saya dengan label yang macam-macam."

Dia setuju dengan jawaban itu, tapi juga menyanggahnya dengan: "kan menghindari zina, li. Lagian orang-orang zaman dulu juga nikah di umur 15 tahun sehat-sehat aja. Anaknya banyak. Banyak anak kan banyak rezeki. Itu konsep ekonomi Allah."

Saya hanya diam, malas menanggapi. Meski dalam hati menimpali dengan lagu: "pernikahan dini bukan cintanya yang terlarang hanya waktu saja belum tepat merasakan semwaaa."


Tuduhan tentang kefeminisan saya bukan terjadi sekali dua kali, dalam sebuah obrolan ringan saja saya sering dibercandai: "weh, hati-hati ngebercandain perempuan. Ada feminis di sini," sambil ekor matanya melirik ke arah saya. Atau jika obrolan seperti itu terjadi dalam sebuah grup whatsapp, tentunya saya kena mention.


Saat pengesahan RUU PKS dikecam banyak orang dengan dalih melegalkan zina, membentuk perempuan menjadi pembangkang, dan rumor semisalnya, saya kerap membagikan artikel-artikel yang menampik hal itu. Beberapa membalas dengan pernyataan bahwa feminis itu liberal, ajaran barat, sesat, dan lain-lain. Dan sebagian yang lain sepakat dengan saya bahkan mengajak saya untuk membahas isu feminis dari kacamata islam.

Saya berani jamin, mereka yang menyatakan RUU PKS haram disahkan -meskipun kuliah di luar negeri yang harusnya lebih sadar tentang isu global- belum sepenuhnya memahami RUU PKS dengan baik. Namun bukan berarti saya yang paling paham isu tersebut dibanding mereka. Untuk itu, bukan ruang saya untuk memaparkannya di sini. Barangkali podcast asumsi bisa membantu anda memahami isu ini dengan baik. 

Pembahasan tentang perempuan bukanlah hal baru. Dalam islam, kita telah mengenalnya sejak 14 abad lalu, saat agama islam menaikkan derajat perempuan. 

Di zaman jahiliyah,  perempuan yang haid harus diasingkan karena dianggap tidak suci, bayi-bayi perempuan dibunuh hidup-hidup, perempuan tidak diberi hak dalam warisan, hingga perempuan dianggap sebagai pemuas nafsu laki-laki sana.

Islam datang menghapus semua tuduhan itu. Dibuatlah aturan warisan bagi perempuan, bayi perempuan tidak boleh dibunuh, aturan dalam berpoligami, hingga perempuan haid tidak harus diasingkan karena ia bukan barang najis.

Dalam cerita rakyat Indonesia pun perlakuan yang semena-mena terhadap perempuan juga terjadi. Diceritakan dalam novel Gadis Pantai-nya Pramoedya bahwa si Gadis yang masih belia dinikahi oleh bangsawan. Ia tidak mau dinikahkan, tapi ia tak mampu menolak. Ia dibawa ke kota, lalu ketika dirinya mengandung tak pernah lagi disayang suaminya. Pasca melahirkan, dipisahkan dari anak kandungnya dan dikembalikan begitu saja pada orangtuanya. 

Gadis pantai tidak mampu melawan sebab ia hanya orang dari strata sosial yang bawah. Suaminya yang disebut Bendoro menganggap bahwa pernikahan itu bukan pernikahan yang sebenarnya, Gadis Pantai hanya dianggap sebagai istri percobaan. Istri sebenarnya adalah istri yang berasal keluarga yang sederajat. 

Dalam novelnya yang berjudul Kartini, perempuan juga diceritakan bahwa derajatnya tidak sama dengan laki-laki. Perempuan tidak boleh belajar, perempuan harus di rumah saja, ilmu dan keterampilan perempuan dan laki-laki dibedakan. Kartini yang merasakan ketidakadilan itu memberontak. Ia dirikan sekolah-sekolah untuk perempuan. Berkat jasanya, kami para perempuan bisa berpendidikan tinggi.

Belakangan, peringatan hari kartini mulai diisukan sebagai memperingati hari feminis. Kelompok islam garis keras menganggap kartini sebagai sosok pertama yang merubah pola pikir perempuan indonesia menjadi wanita pembangkang. Memperingati hari kartini dianggap haram. Padahal, tanpa kartini pun pendidikan di Indonesia tidak mungkin berada di titik ini.

Diskusi soal perempuan dan islam perlu ditingkatkan kualitasnya. Kelompok garis keras perlu mengkaji fatwanya melalui diskursus ilmiah, dengan data dan penelitian. 

Kekerasan terhadap perempuan tidak bisa dibiarkan, undang-undang ketenagakerjaan perempuan perlu disahkan. Kita perlu bahu membahu mendukung perempuan-perempuan di luar sana yang mengharapkan cuti haid jadi legal. Kita perlu belajar dari negara-negara Arab agar rape marriage ditiadakan. -Memakai istilah mba Kalis- No one should left behind, rangkul bersama, jangan ada satu perempuan yang kita biarkan berjuang sendirian. 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Review

Mengenal Cara Ulama Mengolah Sumber Hukum, Review Buku Ushul Fiqih Ringkas Karya Ustaz Sarwat



Ushul Fiqih dalam hidup saya sudah dipelajari sejak saya duduk di bangku SMP. Saat itu, buku yang dijadikan rujukan adalah buku yang berjudul Mabadi Awwaliyah karya Ustaz Abdul Hamid Hakim yang hanya membahas kaidah-kaidah ushul fiqih saja.

Saat SMA, buku rujukan sekolah adalah kitab Asybah Wa Nadzoir-nya Imam Suyuti. Tapi, belum seluruhnya dipelajari, sehingga hanya sebagian kecil saja yang saya tahu.

Meskipun saat kuliah di Indonesia sudah mempelajari kitab Nihayatusul, bagi saya mengenal sejarah ditulisnya kitab itu saja sudah memusingkan, apalagi mempelajari bab-bab di dalamnya.

Memang saya tumbuh dan besar di lingkungan pesantren, tapi bukan berarti saya pandai dalam bab-bab agama. Justru saya merasa sangat lemah dalam menghafal nama Ulama beserta riwayat hidupnya, juga sulit menghafal sejarah islam, apalagi memahami kaidah ushul fiqih, -meskipun di kelas X kami sudah tamat belajar mantiq-. 

Beruntungnya, saat di Mesir saya ambil jurusan Bahasa Arab. Jadi, pelajaran agama yang dipelajari merupakan hal-hal dasar seperti fiqih ibadah, fiqih muamalah, fiqih pernikahan, fiqih warisan. Tafsir dan Hadisnya pun mirip-mirip dengan yang telah dipelajari di pondok. Alhamdulillah jadi sama seperti mengulang materi saja. 

Di tahun akhir, ternyata ada mata kuliah ushul fiqih yang pembahasannya lebih mendalam daripada yang dipelajari di pesantren.

Jika dulu saya baru belajar kaidah-kaidahnya saja, sekarang saya harus tahu, paham,  dan hafal bagaimana sejarahnya, hubungannya dengan ilmu-ilmu agama lainnya, ruang lingkupnya, sumber-sumbernya, ulama-ulamanya, berikut kaidah dan asal usulnya.

Dan semua materi ushul fiqih yang berat itu jadi tambah berat karena harus dipahami dalam satu semester yang biasanya memakan waktu sekitar dua bulan saja. Beruntungnya ada buku-buku ushul fiqih berbahasa Indonesia yang dipinjamkan teman saya untuk memudahkan saya dalam belajar. Yang satu berjudul Ushul Fiqih Ringkas karangan Ustaz Ahmad Sarwat, LC., MA. dan satunya lagi Ilmu Ushul Fiqih; Mengenal Dasar-dasar Hukum Islam karya Ustaz Isnan Ansory, Lc., M.Ag. yang keduanya sama-sama terbitan Rumah Fiqih Indonesia.

Alhamdulillah saya sudah membaca Ushul Fiqih Ringkas-nya Ustaz Sarwat, dan agar semakin mengambil manfaat dari buku tersebut, saya membuat catatan kecil di blog ini. Sedangkan, buku kedua; Ilmu Ushul Fiqih sedang saya baca dan akan saya post di kiriman yang akan datang, insyaallah, setelah saya rampung membacanya.

Seperti judulnya, Ushul Fiqih Ringkas berisi ringkasan Ilmu Ushul Fiqih yang dikhususkan bagi pemula. Bahasanya sangat ringan, penjelasannya simpel, dan contoh-contoh yang dihadirkan di buku itu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah dipahami dan dihafal.

Ada 11 bab di dalam buku itu, yang bisa dikatakan terbagi menjadi 3 pembahasan:

1. Pengantar ushul fiqih (pengertian, sejarah, dan ruang lingkupnya)

2. Sumber Ushul Fiqih (a. Sumber yang disepakati, b. Sumber yang tidak disepakati.

3. Pembahasan ijtihad, taqlid, mazhab, talfiq, dan fatwa, yang merupakan hal-hal yang terjadi dalam membahas sumber hukum. (Correct me if i'm wrong) :)

Meskipun buku ini ditulis untuk pemula, bagi saya buku ini ditujukan untuk orang yang belajar agamanya sudah bukan lagi di level yang sangat dasar. Karna istilah-istilah di dalam buku ini berbahasa arab, dan meskipun ada penjelasan istilah secara terminologis, tetap saja orang awam -apalagi yang belum berkenalan dengan bahasa arab- akan merasa kesulitan. 

Tapi pemula bagi penulis tentu berbeda artinya dengan pemula bagi pembaca. Maka, tidak salah juga jika ditulis: untuk pemula. Karna saya yang belajar agama bertahun-tahun saja masih kesulitan memahami isi bukunya, dengan kata lain dalam ilmu ushul fiqih saya masih dianggap pemula.

Namun bagi saya, membaca buku ini mengajarkan banyak hal-hal baru -yang ternyata itu merupakan basic dalam ilmu ushul fiqih, tetapi saya belum mengenal itu sebelumnya, dan tidak ada di diktat kuliah saya-. Diantaranya: tentang mazhab, talfiq antar mazhab, fatwa, dan taqlid. 

Sangat wajar jika pembahasan ushul fiqih di diktat anak jurusan bahasa arab tidak selengkap pembahasan di diktat anak jurusan syariah atau ushuluddin. Demikian juga pembahasan nahwu di jurusan syariah tidak sedetail pembahasan nahwu di jurusan bahasa Arab. -Meski tentunya hal itu bukan jadi alasan untuk anak bahasa tidak paham ushul fiqih dengan baik atau anak Syariah tidak paham nahwu dengan baik.-

Jika dulu saya hanya tahu dalil bermazhab saja, sekarang jadi tahu alasan pentingnya bermazhab, pendapat ulama tentang mazhab, hukum mencampur mazhab (talfiq),  bahkan sejarah mazhab itu sendiri.

Melalui buku ini juga, saya belajar perbedaan ijab, wujub, dan wajib yang ketiganya serupa tapi tidak sama. 

Meskipun terdapat beberapa tipo dalam buku ini, namun kesalahan tersebut dapat ditolerir karna tidak sampai mengakibatkan terjadinya perubahan makna.

Ala kulli haal, buku ini sangat direkomendasikan untuk siapapun yang merasa kesulitan memahami ilmu ushul fiqih. Dengan membaca buku ini, dasar-dasar ushul fiqih menjadi mudah dimengerti. Dengan pemaparan yang singkat, padat, dan jelas, pembaca tidak akan bosan dan semakin memahami proses istimbath hukum dari dalil-dalil syariah.

Selamat membaca! 



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Cerpen

Sebuah Kisah Singkat di Majelis Ilmu

Malam itu di sebuah majelis ilmu, seorang Guru meminta muridnya bercerita. Diantara puluhan murid, nampak seorang pemuda malu-malu mengangkat tangannya. Sang Guru memintanya berdiri. Pria itu nurut. 

Berdiri di antara murid lainnya, meskipun matanya terus menatap ke bawah sambil menundukkan kepalanya. Tidak berani mengangkat pandangan atau kepala pada gurunya sedikitpun.

Laki-laki itu berdiri memegang pengeras suara. Badannya sedikit gemetar. Beberapa meter di depannya Gurunya duduk di atas sofa sambil memperhatikannya.

Puluhan detik anak muda itu hanya bisa mematung. Menghilangkan debar-debar irama jantung

Setelah berdehem beberapa kali, ia mulai angkat bicara. Menjelaskan ihwal dirinya yang konon tak pandai berbahasa Arab. 

Setelah puas beralasan, ia mulai bercerita. Tentang pangkat dan kehormatan di dunia.

Menurutnya, manusia seringkali terjebak pada hirarki. Seolah yang di atas harus lebih tinggi pendidikan formalnya. Atau yang menempati posisi yang lebih tinggi artinya lebih mulia dari yang di bawahnya.

Menurutnya juga, hirarki hanyalah struktur agar manusia bisa bekerja sama. . "Pemimpin menduduki kursi tertinggi tak selalu bermakna ia lebih hebat atau lebih mulia. Bukan seberapa berpangkat dan seberapa terhormat dirimu di dunia, tetapi seberapa berguna dirimu untuk orang-orang di sekelilingmu."

Murid-murid hanya mendengarkan. Tak ada yang bersuara, suasana khidmat bagai keramat di benak si pemuda yang tiba-tiba berhenti beberapa saat. Setelah menghirup nafas dalam-dalam, ia melanjutkan bicaranya.

"Akhlak itu diatas segalanya. Seumpama sudah berilmu jangan menyepelekan guru2 yang hanya lulusan pondok pesantren jawa. Tetap anggap diri kita santri, dan mereka tetap guru. Jangan sampai dengan gelar LC sudah merasa menjadi guru besar dan alim. Tetap merasa mubtadi," ujarnya dengan logat Jawa kental.

Nasihat tentang akhlak itu ditutup dengan pesan singkat:

"الأدب فوق العلم"

.

*terilhami dari kisah yang tentang guru dan murid

🤲اللهم اهدنا لأحسن الأخلاق🤲

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Review

Membaca Novel Sayyiduna, Karangan Syekh Mustofa al-Azhari




Buku ini pernah booming di Kairo kira-kira dua tahun lalu. Entah booming di kalangan mahasiswa seperti kita saja atau juga di kalangan orang-orang non akademis juga, yang  terpukau dengan isinya.


Bahkan saat buku ini sedang naik daun, saya beberapa kali menghadiri bedah buku berjudul Sayyiduna ini, bahkan mendapatkan tanda tangan penulisnya juga, yang merupakan senior kami di Al-Azhar.

Sayyiduna dalam bahasa Indonesia berarti Sang Maha Guru. Novel ini bercerita tentang aliran-aliran sesat yang berkembang di kalangan masyarakat islam, khususnya penduduk Mesir itu sendiri.

Tokoh-tokoh di dalamnya adalah beberapa; Robi' as-Sufi, Abdussalam ad-Da'isyi, Haisam al-Librali, Hazem al-'ilmani, Huzaifah as-Sufla. Mereka tinggal bersama dalam satu flat (apartemen). Semuanya sama-sama beragama islam, tetapi memiliki pemahaman islam yang berbeda. Mereka adalah orang-orang yang suka berdebat.

Di buku ini, masing-masing dari mereka mempresentasikan isi kepalanya. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa buku ini berisi tentang perdebatan sengit diantara mereka, yang saling mempertahankan argumennya masing-masing.

Dalam bincang buku hari ini saya hanya akan menceritakan satu chapter saja, karena membaca satu chapter saja sudah membuat saya pening. Hehe

....

Sore itu, Robi' as'Sufi merasa lapar, kemudian ia pergi ke dapur. Dilihatnya ayam bakar, kue fatir rasa susu, dan seteko madu murni di dalam tudung saji di meja makan. Ia mengambil seperempat potong ayam dan roti fatir itu ke dalam microwave, lalu mencuci piring. Saat ayam dan roti itu telah dipanaskan, dibawanya ke ruang tamu dan ia panggil seluruh penghuni rumahnya.

Seketika seisi rumah menghampirinya, kecuali Abdussalam. Ia berteriak dari dalam kamarnya agar teman-temannya memperhatika  apa ya g akan ia katakan dan mengamininya. "Baiatlah Abu Bakar al-Baghdadi, kalo udah, baru gue anggep kita bersodara."

Haisam si penganut pemahaman liberal menolaknya. "Terserah lu deh, tapi jujur aja gue ga mau ngebaiat Abu Bakar al-Baghdadi. Udah, fokus aja sama urusan belajar lu. Ngga pantes tau, elu kuliah di al-Azhar tapi ngomongnya kaya begitu."

Huzaifah hanya senyam senyum. Sebenarnya Huzaifah ini orangnya plin plan dalam urusan akidah. Antara mau mengimani akidahnya Khomsah yang sangat bertolak belakang dengan Abdussalam, atau mau mengikuti alirannya Abdussalam. Jadinya, ia mengikuti khomsah secara terang-terangan, tapi dalam hati mengikuti Abdussalam.

Sittah yang duduk di sofa menengahi. "Udah, udah, mending kita makan aja, sebelom dingin. Bismillahirrohmanirrohim."

"Ga boleh gitu, lu. Salah, lu. Ngga boleh bilang Bismillahirrohmanirrohim sebelum makan. Soalnya Rosulullah bilangnya: 'Bismillah'. Hal-hal yang ngga dilakuin sama Nabi, tapi elu lakuin itu kan Bid'ah. Bid'ah itu sesat, masuk neraka, lu!," Huzaifah mendebatnya.

Hazem berbisik di telinga Haisam: "Sebenernya di rumah ini tuh ngga ada satupun yang sama pemikirannya sama isi kepala gue. Coba bayangin kalo mereka tau, kalo kita nongkrong di cafe-cafe Downtown, mereka bakal ngapain kita, ya?"

Haisam menjawab: "udah pasti kita bakalan dihukum."

"Eh Huzaifah! Omongan lo itu aneh banget, sih, gue baru denger itu pertama kali. Seumur-umur itu kita kalo mau makan ya baca Bismillahirrohmanirrohim," kata Robi'.

Huzaifah membalas: "Banyak banget orang-orang yang terjerumus dalam bid'ah, tugas gue ya ngelurusin pandangan mereka. Ini dia manhaj gue, manhaj salafi. Gue memahami al-Quran dan hadis sama persis kaya yg dilakuin orang-orang islam di zaman dulu."

Yunus ikutan nimbrung: "Eh, Huzaifah... tobat, lu! Elu itu ngomongin hal-hal yang sebenernya elu sendiri engga pahami itu dengan baik. Lu ngeracunin kite dengan pemahaman yang sesat. Please, deh, buka hati lu luas-luas, biar gue bisa jelasin ke elu pemahaman yang benar itu kaya gimana," katanya.

Huzaifah tidak mau kalah. "Gue sebenernya setuju aja sama argumen lu, asalkan ada dalil al-Quran, Hadis, dan pendapat ulama salafussolih."

Yunus kembali menjawab: "Gini deh, tadi kan lo udah jelasin 3 poin, tiap poin bakal gue jelasin satu-satu. Gue bakal sebutin semua argumen lu dulu,  kemudian gue sebutin argumen gue satu-satu."

Yunus memaparkan argumennya panjang lebar, sampai 5 halaman muka novel.

Setelah penjelasan Yunus yang panjang lebar sampai 5 halaman itu, Huzaifah masih saja mengelak: "Tapi saya ngga mungkin mengingkari pemahaman yang bertentangan dengan al-Quran dan hadis."

Yunus mendebatnya lagi panjang lebar. Yang intinya adalalah: ulamanya orang Salafi hanya belajar pada orang-orang yang sepemahaman dengannya, padahal jelas-jelas pemahaman mereka salah besar. Mereka berguru pada Ibnu Taimiyah yang jelas-jelas bukan merupakan orang yang hidup di masa-masa yang disebutkan rosulullah tentang hadis 'Sebaik-baik manusia adalah yang hidup sezaman dengan saya, kemudian zaman sesudahnya (tabi'in), dan sesudahnya lagi (tabiut tabi'in).'

Haisam dan Hazem senang dengan penjelasan Yunus yang masuk akal, yang berhasil membuat Huzaifah mati kutu. Sampai-sampai Robi' bertakbir: "Allohu Akbar! Terimakasih pemaparannya Syekh Yunus. Allah balas pahala insya allah."

Musab nimbrung: "Eh, Yunus! Lu tuh belajar ginian dari mana, sih?"

"Dari Sang Maha Guru yang ngga bisa dilawan." Jawab Yunus.

Musab bertanya lagi: "Namanya siapa?"

"Nanti kalian juga tau, siapa yang gue maksud dengan Sang Maha Guru." Jawab Yunus dengan mantap.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Review

Review Singkat Novel Melbourne (Wedding) Marathon

 Melbourne (wedding) Marathon bercerita tentang kisah cinta Sydney Deyanira dengan seorang pemuda kaya raya bernama Anantha. Sydney mengenalnya akibat direkomendasikan oleh Rob untuk menjadi juru masak di rumahnya.


Anantha yang sudah lama menghilang dari dunia pesta akibat putus cinta dengan Danisha, meminta Sydney agar pura-pura jadi pacarnya, dan menemaninya ke setiap pesta. Awalnya Sydney menolak, tapi perjanjian di atas kertas itu akhirnya disetujui juga dengan konsekuensi pemberhentian kontrak.

Lambat laun mulai ada perasaan cinta diantara mereka. Namun akibat permintaan kakek Anantha yang memintanya menjauhi cucunya, Sydney berbohong agar jauh dari Anantha.

Beberapa tahun sesudahnya mereka dipertemukan di sebuah gedung yang ternyata milik Anantha. Perasaan sayang diantara mereka  kembali tumbuh hingga disatukan dalam ikatan pernikahan.

Novel ini menyuguhkan cerita ringan dengan bahasa yang mudah dipahami. Gaya khas penulis sangat dapat dirasakan pembaca yang sudah membaca seluruh novel karyanya.

Berlatar tempat di Jakarta, Melbourne, Singapore, dan Malaysia membuat imajinasi kita seakan ikut berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Tokoh dan kisahnya membuat cerita ini jadi apik dan menarik.

Namun, seperti novel-novel Almira Besari lainnya, banyak hal yang menurut saya harus diperbaiki lagi oleh penulis. Pendeskripsian tokoh yang tidak konsisten sedikit mengganggu imajinasi saya.

Misalnya saat saya membaca di chapter sebelum chapter 1, saat Sydney menelpon sahabatnya, tapi tidak menyebutkan siapa tokoh yang dimaksud disana. Saya berharap ada penjelasan singkat mengenai tokoh itu, meskipun dapat kita ketahui dari alur cerita setelahnya bahwa yang dimaksud disana adalah Rafka.

Di chapter 2, saat penulis menyinggung tentang sahabat Sydney yang lain, penulis menyebutkan nama lengkap berikut latar belakangnya. Padahal, di awal cerita saja sang tokoh utama tidak diceritakan latar belakangnya, bahkan nama panjangnya pun tidak disinggung sama sekali. Penulis akan mengetahui nama panjang Sydney saat ceritanya sudah jauh melalang buana.

Kemudian saya menemukan bagian cerita yang diulang-ulang, yang lagi-lagi tentang Detira. Fatalnya, pengulangan ini terjadi dengan jarak yang berdekatan, kira-kira hanya terpaut 22 paragraf. Meskipun pada pengulangan itu penulis menambahkan deskripsi tambahan tentang siapa Detira, ada cara lain yang harusnya ditempuh penulis untuk menambahkan deskripsi itu. Misalnya: "Kecantikan Detira memang bagai putrri yang menyamar di dunia kasta sudra. Hidungnya mancung, rambutnya kecoklatan, kulitnya putih, penampilannya elegan, dan juga pintar. ......."

Hal yang selanjutnya saya sayangkan adalah chemistry yang kurang terbangun pada jalan cerita itu sendiri. Seharusnya diceritakan saat Sydney yang bekerja di rumah Anantha itu memperoleh gaji pertamanya. Sebab, latar belakang pertemuan mereka itu karena urusan pekerjaan. Seolah-olah latar belakang ini terabaikan pada cerita itu sendiri.

Kemudian ada kesalahan yang menurut saya agak fatal, yaitu salah menyebut tokoh cerita. Ini terjadi di bagian saat rumah Anantha didatangi mantan kekasihnya, yang bernama Denisha. Seharusnya yang menyalakan interkom video dirumahnya adalah Anantha itu sendiri, tetapi ditulisnya Rafka, yang jelas-jelas tidak ada dalam bagian cerita itu sama sekali.

Akhir kata, novel Melbourne (Wedding) Marathon ini tetap saya rekomendasikan untuk dibaca sebagai hiburan, khususnya bagi penikmat cerita cinta.

Selamat membaca!

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Review

Rumah Buku; Kisah Takdir Buku di Tangan si Gila Buku



Bluma Lennon adalah seorang dosen berusia 45 tahun yang baru saja meninggal akibat tertabrak mobil saat sedang berjalan sambil membaca buku. Seorang teman dekatnya yang sangat mengenalnya harus menggantikannya mengajar di Jurusan Sastra Amerika Latin di Universitas Cambridge.


Beberapa hari setelah kematian Bluma, ia dikirimi sebuah paket berisi buku lusuh yang di sampul depan dan belakangnya ada kotoran berkerak, dan pinggiran-pinggiran halamannya dilapisi partikel-partikel semen yang akan meninggalkan debu halus di tangan pembacanya, atau di tempat dimana buku itu diletakkan. Buku itu diterbitkan oleh percetakan Emecé, Buenos Aires, dan dicetak pada November 1946

Tidak ada surat di dalamnya, hanya ada kalimat persembahan dari Bluma, yang ditulis dengan tinta hijau. Tulisan tangan itu diawali dengan kalimat 'buat Carlos' dan ditutup dengan tanggal 8 Juli 1996.

Rekan Bluma itu penasaran, mengapa buku itu baru dikirim dua tahun setelah tanggal itu. Kemana dulunya buku itu? Dan apa yang mesti dibaca Bluma dari buku bersemen itu?

Karena penasaran, ia mulai memecahkan teka-teki tersebut. Ia membongkar berkas-berkas Bluma untuk mencari petunjuk. Ia berencana untuk mengembalikan buku yang diterbitkan oleh  itu pada pengirimnya, dan mencari tahu siapakah Carlos yang dimaksud Bluma dalam buku itu.

Ia memulainya dengan petunjuk pertama; Monterrey. Tapi ia tidak menemukan seorang pun dalam berkas "Dokumentasi Monterrey" yang bernama Carlos. Kemudian ia mengirim e-mail ke panitia yang menggelar acara itu. Tapi balasannya tidak banyak memberi jawaban dari teka-teki itu. Lalu ia mengirim e-mail juga pada salah satu penulis Uruguay yang juga hadir pada acara itu. Penulis itu memberitahunya bahwa ada seseorang bernama Carlos Braurer yang juga menghadiri acara itu dan dilihatnya ia pergi dengan Bluma setelah acara itu selesai. Penulis itu menawarkan solusi agar ia dapat bertemu Carlos.

Beberapa hari setelah itu, ia pergi menemui Jorge Dinarli, pemilik salah satu toko buku lawas terbaik di Montevideo yang sudah lama mengenal Carlos. 

Saat berjumpa dengan Dinarli, ia malah mengenalkannya dengan seseorang yang jauh lebih mengenal Carlos, namanya Agustin Delgado. Dinarli hanya menceritakannya hal-hal tentang Carlos yang remeh temeh saja. Sesudah mendapatkan kontak Delgado, teman dekat Bluka itu kembali ke hotel dan menelpon Delgado pada malam itu juga.

Esoknya, mereka bertemu di ruang kerja Delgado yang dipenuhi dengan rak-rak besar berlapis kaca yang dijejali tumpukan buku. Delgado bercerita tentang Carlos yang juga punya banyak buku yang terhampar di seluruh sudut ruangannya. 

Delgado bercerita panjang lebar tentang Carlos. Carlos yang tidak mungkin meletakkan Shakespeare bersebelahan dengan Marlowe sebab tudingan-tudingan penjiplakan yang pedas antar kedua penulis itu, Carlos yang tidak bisa menjajarkan buku Martin Amis dengan Julian Barnes setelah keduanya bermusuhan. Carlos yang juga memperlakukan hal itu pada dua penulis lain yang bersetegang. 

Delgado juga menyebut bahwa Carlos berniat untuk menyudahi sistem indeks tematik. Baginya, kemudahan untuk menemukan buku-buku yang dicari itu satu hal, tapi menempatkannya berdekatan atau berjauhan itu soal hal lain. Carlos bersikeras bahwa metode pengelompokan buku yang ada saat ini itu kampungan. 

Tetapi Carlos tidak hanya mengkritik hal itu, ia menyiapkan solusinya, menggarap indeksnya dan mulai mempelajari matematika lanjutan. 

Namun menurut orang-orang yang berjumpa dengan Carlos saat itu, Carlos mulai menunjukkan tanda-tanda kegilaan. Menjajarkan buku sampai membentuk kontur tubuh manusia, juga membaca karya penulis Perancis abad ke-19 dengan cahaya lilin yang pada suatu hari membakar sebagian rumahnya dan merusak indeksnya. Sejak itu Carlos jadi bermuram durja. 

Dijualnya rumah itu lalu ia pindah ke Rocha. Ia membangun rumah di tepi pantai dengan buku-bukunya sebagai batu bata. Baginya, buku-buku adalah rumah yang menemaninya, memberinya perlindungan. 

Begitu cerita itu selesai, Delgado menyuruhnya pulang dan berjanji akan menemuinya lagi di esok hari, meski ia tidak yakin hal itu akan terjadi. Teman dekat Bluma itu jadi tahu darimana buku itu didapat. Kemudian ia kembali ke Cambridge, menjalani hidup seperti biasany meski rasa penasaran masih menyelimutinya. 

Hingga pada suatu hari ia pergi untuk melihat bangunan itu dengan mata kepalanya sendiri. Rumah di tepi laut itu tampak usang. Temboknya doyong disela-sela gumpalan semen. Buku-buku menempel kaku dengan tipografi yang tidak lagi terbaca. Sebagian berserakan dan sebagian lainnya tertimbun. Ia memasuki gubuk itu, mengeluarkan buku yang membuatnya penasaran; La linea de sombra. Meninggalkannya di sudut perapian. Melangkah pergi lalu kembali lagi untuk membawanya pulang. 

Sekembalinya ke Cambridge, ia mengunjungi makam Bluma. Meletakkan buku itu di depan nisannya. Rintik hujan menetesi sampulnya yang kasar. Setelah mengucapkan selamat tinggal, ia pulang. Kembali ke rumahnya.

Itu adalah penggalan dari kisah sebuah buku yang diubah takdirnya oleh pemeliknya sendiri. Novel 76 halaman dengan judul Rumah Kertas ini menyuguhkan kisah yang sangat brilian. Sebab, semua tokoh yang terlibat di dalam kisah itu adalah penggila buku semuanya. 

Meskipun saya menceritakan isi novel panjang lebar, tetap saja membaca buku aslinya akan jauh lebih menyenangkan. Banyak bagian yang dibahas begitu rinci di novel itu, yang tidak saya jelaskan dengan gamblang di sini, termasuk cerita akhir yang disampaikan nelayan.

Carlos María Domínguez, penulisnya pasti juga seorang kutu buku. Tak mungkin ia sanggup menceritakan kisah ini sedemikian indahnya tanpa tahu tentang apa yang ia tulis. Karangan-karangan penulis hebat banyak disebutkan disana, beberapa lengkap dengan deskripsinya.

Dari buku ini, saya belajar bahwa takdir sebuah buku ada di tangan pemiliknya. Dari sana juga, saya dapat merasakan kekecewaan Carlos yang kehilangan indeksnya, yang telah memupus semua ilusi untuk bisa menata perpustakaannya.

Komentar The New York Times yang disematkan di cover buku dapat saya rasakan benar adanya. Buku tipis ini bisa menghantui pembaca jauh sesudah ditutup. 

Saya jadi ingat komentar saya saat meminjam buku ini kepada teman saya. Saya bilang novelnye terlalu tipis. Dia menjawab santai: biar dibaca berkali-kali. Jadi seperti ini, rasanya  telah menamatkan novel ini; ingin membacanya lagi.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments